MAGELANG - Pemkot Magelang memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan menyalurkan berbagai sarana dan prasarana pendukung ke ratusan RW. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menekan timbulan sampah sejak dari sumbernya, sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah di tingkat lingkungan.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang Handini Rahayu mengatakan, bantuan yang disalurkan berasal dari kegiatan Prodamai, program unggulan Makclinge, serta aspirasi dewan tahun 2025.
Seluruh sarana itu ditujukan untuk memperkuat operasional pengumpulan, pemilahan, dan pengelolaan sampah di tingkat RW dan bank sampah unit.
Sarana ini diharapkan mampu mendorong pemilahan sampah organik dan anorganik secara konsisten, sehingga beban residu yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan.
Tak hanya itu, pemkot juga menambah armada pengangkutan sampah skala lingkungan dengan menyalurkan 16 unit kendaraan roda tiga yang berasal dari aspirasi dewan. Dua unit tambahan dialokasikan secara khusus untuk mendukung program Makclinge di wilayah Potrobangsan dan Tidar Selatan.
Handini mengatakan, seluruh sarana tersebut telah selesai melalui proses pengadaan dan siap digunakan. Dia menekankan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat, tetapi juga oleh konsistensi pemanfaatan dan perawatan di tingkat masyarakat.
"Kalau pemilahan dan pengelolaan sudah berjalan di hulu, maka residu di hilir bisa ditekan sangat signifikan," lontarnya.
Damar mengungkapkan, saat ini tingkat pengelolaan sampah di Kota Magelang telah mencapai sekitar 95 persen. Namun, sisa sampah yang belum terkelola sepenuhnya masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
"Masih ada sebagian kecil yang belum terkendali. Tapi dengan kesadaran kolektif antara pemerintah dan masyarakat, saya yakin pengelolaan sampah kita bisa mendekati 100 persen," bebernya.
Baca Juga: Permainan Tradisional Domino Resmi Jadi Cabang Olahraga Baru, DIY Jaring Atlet Persiapan Kejurda
Terkait pengelolaan jangka panjang, kata dia, pemkot tengah menyiapkan konsep pengelolaan sampah modern yang tidak hanya bergantung pada TPSA Banyuurip. Pemerintah daerah juga menyiapkan lahan alternatif di wilayah Bojong untuk mendukung sistem pengolahan sampah yang lebih terpadu.
"Kita ingin tempat pembuangan akhir yang benar-benar purna. Artinya, sampah sudah selesai diolah dan tidak menyisakan persoalan lingkungan. Ini tentu perlu kajian kelayakan, kesiapan fiskal, dan proses bertahap," jelas Damar. (aya)