Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Di Bawah Cahaya Borobudur, Indonesia Menari dari Sabang hingga Merauke Pukau Ribuan Mata Penonton

Naila Nihayah • Rabu, 31 Desember 2025 | 04:51 WIB
ATRAKTIF: Para penari tampak semangat membawakan tarian pada Pagelaran Sabang Merauke di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur, Selasa malam (30/12).
ATRAKTIF: Para penari tampak semangat membawakan tarian pada Pagelaran Sabang Merauke di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur, Selasa malam (30/12).

MUNGKID - Cahaya temaram lampu panggung menyapu relief-relief batu Candi Borobudur, seolah membangunkan ingatan panjang tentang kejayaan peradaban Nusantara. Di antara stupa-stupa yang senyap dan angin yang berhembus lembut, Sabang hingga Merauke bertemu. Bukan dalam peta, melainkan dalam gerak, musik, dan jiwa.

Selasa malam (30/12), kemegahan Candi Borobudur menjadi saksi Pagelaran Sabang Merauke, Hanya Indonesia yang Punya: Mahakarya Borobudur. Sebuah pertunjukan kolosal yang merayakan keberagaman budaya Indonesia. Kali ini hadir dalam format khusus yang dirancang menyatu dengan energi situs warisan dunia.


Sebanyak 90 penari dari berbagai penjuru Nusantara, mulai Papua, Aceh, Jogja, hingga Magelang berdiri di panggung dengan kostum warna-warni yang merepresentasikan identitas daerah masing-masing.


Gerak mereka berpadu dengan suara lima penyanyi nasional: Alsant Nababan, Christine Tambunan, Nino Prabowo, Okvalica, sinden asal Jawa Tengah, serta Galabby Thahira, yang mengisi malam Borobudur dengan harmoni lintas budaya.


Sutradara Mahakarya Borobudur, Rusmedie Agus menyebut, pertunjukan ini sebagai perjalanan batin sekaligus visual. Ribuan penonton diajak mengarungi Nusantara melalui narasi Kapal Samudra Raksa. Sebuah kapal legendaris yang terukir dalam relief Borobudur dan menjadi simbol kejayaan maritim bangsa Indonesia.


"Kapal Samudra Raksa mencerminkan bahwa bangsa Indonesia adalah pelaut yang handal, dengan sistem kemaritiman yang sudah maju sejak dulu," ujar Rusmedie.


Dalam gelap malam, kapal itu seakan hidup kembali. Berlayar di atas samudra imajiner yang membentang dari ujung barat hingga timur Indonesia. Tari-tarian daerah muncul silih berganti, membawa kisah tanah, laut, dan manusia Nusantara yang berbeda-beda namun saling terhubung.


Secara prinsip, Pagelaran Sabang Merauke tetap mengusung semangat yang sama, yakni merayakan keberagaman Indonesia. Namun Borobudur menghadirkan dimensi yang berbeda. Pertunjukan ini bukan sekadar versi singkat dari pagelaran megah yang biasa berdurasi 2,5 hingga 3 jam, melainkan adaptasi konsep yang menyatu dengan karakter dan atmosfer cagar budaya.
"Ini memang mini show, tapi sebenarnya ini versi Borobudur. Energinya sangat berbeda," kata Rusmedie.


Dia menyebut, ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika membayangkan para leluhur membangun Borobudur. Dan kini dihadirkan kembali spirit itu lewat seni pertunjukan.


Magis Borobudur terasa nyata. Relief-relief batu seolah menjadi penonton bisu yang memahami setiap cerita. Sejarah tidak hanya dipajang, tetapi diajak berdialog, antara masa lalu dan masa kini, antara leluhur dan generasi hari ini.


Head of Marketing Communication iForte, Victor Sihombing menyebut, Pagelaran Sabang Merauke sebagai pertunjukan budaya yang spektakuler, megah, dan kolosal. Sejak kali pertama digelar, pertunjukan ini telah tampil enam kali di berbagai lokasi, termasuk terakhir di Indonesia Arena pada Agustus lalu.


"Kami sangat mengapresiasi InJourney Destination Management (IDM) yang mengajak Pagelaran Sabang Merauke hadir dalam program Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Candi Borobudur," ujar Victor.


Meski durasi dipadatkan menjadi sekitar satu jam, Victor menegaskan kemegahan pertunjukan tetap terjaga. Jika biasanya melibatkan lebih dari 350 penari dan 600 seniman, versi Borobudur dirancang lebih intim tanpa kehilangan kekuatan naratif dan visualnya.


Di balik panggung, Mahakarya Borobudur juga menjadi bagian dari visi besar pengelolaan destinasi budaya. Direktur Komersial InJourney Destination Management (IDM) Gistang Panutur mengatakan, pertunjukan ini masuk dalam rangkaian agenda akhir tahun di kawasan Borobudur yang menggabungkan pengalaman budaya, lanskap alam, dan fasilitas penunjang.


"Mahakarya Borobudur diharapkan menjadi penanda arah baru pengelolaan destinasi warisan budaya, yang tidak hanya berfokus pada kunjungan fisik, tetapi juga pengalaman naratif dan artistik," lontarnya.


Bagi penonton, pertunjukan ini bukan sekadar hiburan. Maha Ractic, warga Borobudur, mengaku terkesan dengan konsep Sabang sampai Merauke yang dihadirkan di situs bersejarah tersebut. Juga mengenalkan budaya Indonesia.


"Pertunjukan ini sangat menarik karena mengenalkan budaya Indonesia sesuai dengan tajuknya, Dari Sabang sampai Merauke," lontarnya.


Setiap pertunjukan usai, tepuk tangan membahana di kaki Borobudur. Lampu panggung perlahan meredup, menyisakan siluet candi yang kembali sunyi. Para penonton pun hanyut terhadap pertunjukan yang disuguhkan. Tak lupa dengan masing-masing gawainya untuk merekam tarian Sabang Merauke. (aya/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#kesenian #candi #Candi Borobudur #nataru #pagelaran #Relief #mahakarya #Budaya #siluet #pertunjukan #sejarah #artistik #penari