KEBUMEN - Warga di Padukuhan Truntung, Desa Ayamputih, Kecamatan Buluspesantren menolak perpanjangan izin tower provider. Keberadaan tiang pemancar sinyal yang telah berdiri 20 tahun tersebut dinilai hanya membawa dampak negatif bagi warga.
Aksi penolakan warga ini diwarnai pemasangan berbagai spanduk berisi tuntutan. Para warga meminta agar perizinan tower tidak lagi diperpanjang. Dengan alasan bahaya yang ditimbulkan, baik dari sisi kesehatan maupun potensi kerugian meteriel.
Tokoh masyarakat setempat, Maskun, 53, mengatakan, keberadaan tiang BTS di area permukiman selama ini telah menjadi keresahan bersama, terutama bagi warga RT 01/02 yang berada di dekat zona tiang base transceiver station (BTS). Dia berharap tuntutan warga dapat menjadi perhatian serius, mengingat dampak negatif yang dirasakan warga cukup besar.
"MoU sudah selama 20 tahun, habis Mei kemarin. Lah ini diperpajang tidak ada sosialisasi. Maka warga ambil sikap," katanya kepada Radar Jogja, Kamis (25/12).
Diungkapkan, hanya segelintir warga yang dilibatkan saat proses awal perizinan tower. Mestinya, kata dia, warga lain yang berada di radius terdekat juga ikut diajak bermusyawarah sebelum izin keluar. Hal ini menurutnya penting agar tidak muncul gejolak di tengah masyarakat.
Di satu sisi, dia cukup menyayangkan karena selama ini tidak ada kompensasi layak terkait keberadaan tower. Maskun menyebut, selama 20 tahun warga hanya mendapat uang tidak kurang dari Rp 100 ribu dengan adanya tower. "Kompensasi itu pertama di 2005. Hanya Rp 50 ribu," ungkapnya.
Berdasar hasil musyawarah tingkat RT, ada 44 warga tidak memberikan restu atas keberadaan tiang tower BTS tersebut. Mereka telah sepakat area permukiman harus steril dari tiang BTS.
"Kami minta ditutup saja, tidak usah diperpanjang. Warga sini sudah sangat resah," ungkap seorang warga Slamet Mulyadi.
Tak hanya itu, sebagai bentuk penolakan warga juga telah berkirim surat ke perusahaan terkait agar segera menindaklanjuti keluhan warga.
"Kami sudah menghitung. Soalnya dampak ke kesehatan dan mengacam nyawa kalau pas ada petir," imbuh Slamet.
Dia mengungkapkan, setiap musim hujan tiba warga selalu dibuat resah karena tiang pemancar sinyal tersebut rawan tersambar petir. Tak jarang petir yang menyambar ke tiang juga turut merusak peralatan elektronik hingga instalasi listrik rumah warga.
"Sering banget, sekali rusak satu rumah bisa empat lampu. TV sama meteran listrik juga sering," ucapnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo