MAGELANG — Pemkot Magelang menegaskan komitmennya untuk memperkuat perlindungan hak asasi manusia (HAM). Khususnya bagi perempuan dan anak, melalui penguatan literasi dan kesadaran masyarakat.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, isu HAM menjadi hal yang sangat fundamental bagi kelangsungan manusia, khususnya bangsa dan negara.
"Oleh karena itu, setiap program dan kebijakan di Kota Magelang selalu menempatkan HAM sebagai prioritas utama," ujarnya di Aula Adipura Kencana, Selasa (16/12).
Damar tidak menampik, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih ditemukan di Kota Magelang. Namun, dia menyebut, terdapat tren penurunan kasus. Satu di antaranya dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat.
"Sekarang apa-apa cepat viral di media sosial. Ini juga menjadi bagian dari penguatan HAM. Masyarakat jadi lebih berani bersuara," katanya.
Untuk memperluas edukasi, dia mendorong supaya mengaktifkan berbagai grup WhatsApp di tingkat masyarakat sebagai sarana literasi HAM. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa tindakan yang dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari justru dapat melanggar HAM.
Dia juga menekankan, literasi HAM akan menumbuhkan kesadaran, yang disebutnya sebagai level tertinggi dalam peradaban manusia. "Hal-hal yang bagi mereka dianggap biasa, ternyata sudah melanggar HAM dan itu tidak disadari. Ini yang akan kita luruskan. Perlu waktu dan komitmen," terangnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPMP4KB) Kota Magelang Wawan Setiadi mengungkapkan, data pelanggaran HAM yang masih menjadi pekerjaan rumah serius.
Hingga saat ini, tercatat 453 kasus pelanggaran hak anak dan 45 kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota Magelang. Angka tersebut, menurut Wawan, masih memerlukan perhatian dan penanganan intensif.
Dia pun berharap tidak ada kasus yang disimpan atau tidak dilaporkan. "Kalau tidak dilaporkan, itu seperti bara dalam sekam, berbahaya karena bisa menumpuk dan meledak menjadi masalah besar," tegasnya.
Staf Khusus Menteri HAM Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Hubungan Internasional Stanislaus Wena menyoroti tantangan baru kekerasan terhadap perempuan dan anak di era digital. Termasuk ancaman penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kekerasan verbal terhadap perempuan, kata dia, kini banyak muncul dalam bentuk ancaman foto atau konten yang dimanipulasi dengan AI. "Itu nyata dan tidak bisa kita nafikan," ujar Stanislaus.
Menurutnya, negara terus berupaya menekan angka kekerasan melalui peningkatan pemahaman HAM di tingkat etis. Agar setiap individu memiliki kesadaran dan pengendalian diri sebelum bertindak atau bertutur.
"Kalau semua orang menyadari bahwa dia setara dengan yang lain, kecenderungan melakukan kekerasan akan menurun karena ada self-control," bebernya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo