MUNGKID - Proses pemugaran Candi Mendut berdampak pada penurunan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Meski demikian, Pemkab Magelang menilai pemugaran merupakan langkah yang tidak bisa dihindari demi menjaga kelestarian cagar budaya jangka panjang.
Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata, Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang Arif Rahman Hakim menyebut, penurunan kunjungan tidak hanya terjadi di Candi Mendut. Tetapi juga di Candi Pawon serta sejumlah daya tarik wisata lainnya jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
"Namun memang kondisi pemugaran di Mendut cukup berpengaruh," kata Arif Senin (15/12).
Dia menjelaskan, sejumlah wisatawan yang sudah tiba di kawasan Candi Mendut memilih tidak masuk setelah melihat kondisi candi yang masih dalam tahap pemeliharaan dan pemugaran. Dari jalan, aktivitas renovasi terlihat cukup jelas sehingga memengaruhi minat pengunjung.
Pemugaran Candi Mendut disebut mulai berlangsung sekitar Juli dan diperkirakan memakan waktu hingga satu setengah tahun. Kondisi ini terjadi di tengah momentum akhir tahun yang seharusnya menjadi periode puncak kunjungan wisata, terutama menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Berdasarkan data pendapatan, Arif menyebut, pada tahun sebelumnya pendapatan dari tiket Candi Mendut dan Candi Pawon, yang dijual dalam satu paket mencapai Rp 290,6 juta. Namun pada tahun ini, hingga saat ini pendapatan baru berada di kisaran Rp 204 juta. "Kalau diprediksi sampai akhir Desember, penurunannya bisa mencapai sekitar Rp 80 juta," ungkapnya.
Selain berdampak pada pendapatan daerah, kondisi ini juga dirasakan oleh para pedagang di sekitar kawasan wisata. Sejumlah pedagang mengeluhkan sepinya pengunjung, terlebih di masa libur akhir tahun.
Sementara itu, Koordinator Museum dan Cagar Budaya (MCB) Unit Warisan Dunia Borobudur, Wiwit Kasiyati menegaskan, pemugaran Candi Mendut dilakukan karena kondisi kerusakan yang cukup serius, terutama pada bagian atap dan badan candi.
"Setelah batu-batu dibuka oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X, justru terlihat bahwa badan candi sudah menggelembung," katanya.
Dia menambahkan, pada tahun ini fokus kegiatan adalah pembongkaran dan sebagian penyusunan ulang struktur candi. Proses penyusunan kembali secara menyeluruh direncanakan akan dilanjutkan pada tahun anggaran berikutnya oleh BPK Wilayah X.
"Mudah-mudahan tahun depan bisa disusun kembali dan Candi Mendut bisa dimanfaatkan lagi oleh masyarakat dan pengunjung. Kami mohon semua pihak bersabar," ujarnya.
Dia menjelaskan, pembatasan yang dilakukan saat ini hanya pada akses masuk ke bilik candi. Pengunjung sebenarnya masih diperbolehkan berada di halaman candi. Namun di lapangan, banyak wisatawan memilih tidak masuk dan hanya berfoto dari luar area candi.
Kondisi tersebut, kata dia, praktis berdampak pada pendapatan daerah dari kunjungan. Namun, baik MCB maupun pemkab tidak mempermasalahkan karena perlindungan candi harus diutamakan.
Wiwit mengatakan, kewenangan pemugaran sepenuhnya berada di tangan BPK Wilayah X yang memiliki tugas dan tenaga ahli juru pugar. Sementara MCB hanya bertugas dalam perawatan dan pengelolaan keseharian kawasan.
"Nanti setelah perlindungan dan pemugaran selesai, baru bisa dimanfaatkan secara optimal lagi," pungkasnya. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita