Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

UNESCO Dorong Pelestarian Omah Jawa Mbuduran Sebagai Pilar Pengembangan Kawasan Borobudur Berbasis Komunitas

Naila Nihayah • Senin, 15 Desember 2025 | 03:15 WIB

 

LESTARI: Pameran Sambatan di Balkondes Giritengah ini diadakan untuk mendorong pemahaman terhadap Borobudur sebagai situs warisan dunia.
LESTARI: Pameran Sambatan di Balkondes Giritengah ini diadakan untuk mendorong pemahaman terhadap Borobudur sebagai situs warisan dunia.

MUNGKID – UNESCO meluncurkan pameran bertajuk 'Sambatan: Bongkar Pasang Pengetahuan Omah Jawa Mbuduran' di Balkondes Giritengah, Borobudur, Kabupaten Magelang. Pameran ini menampilkan pengetahuan hidup, keterampilan, serta makna budaya yang tertanam dalam arsitektur rumah Jawa vernakular.

Pameran yang digelar pada 14–20 Desember 2025 tersebut menjadi bagian dari upaya advokasi UNESCO untuk mendorong pemahaman yang lebih utuh terhadap Borobudur sebagai situs warisan dunia. Tidak hanya terbatas pada monumen candi dan taman arkeologinya, tetapi juga lanskap budaya dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

 Baca Juga: Sudah Comeback Bersama PSS Sleman, Fachruddin Aryanto Masih Terus Dipantau

Kepala Unit Kebudayaan Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Moe Chiba mengaku, terkesan saat pertama kali menyaksikan langsung pameran tersebut. Meski diinisiasi oleh UNESCO, dia menyebut, konten pameran sepenuhnya lahir dari riset mendalam yang dilakukan Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) bersama masyarakat.

Bahkan, dia mengaku tidak menyadari bahwa terdapat pengetahuan yang begitu kompleks tentang alam di balik konstruksi rumah-rumah vernakular ini. "Mulai dari pemilihan material, penentuan hari pembangunan, hingga peralatan yang digunakan, semuanya menunjukkan kedalaman pengetahuan masyarakat," ujar Moe Minggu (14/12).

 Baca Juga: Temukan 50 Pelaku Industri Rumah Tangga Pangan Belum Penuhi Syarat Produksi, Pemkab Gunungkidul Dampingi lewat Bimtek Keamanan Pangan  

Menurutnya, desa-desa di Indonesia menyimpan repositori pengetahuan yang luar biasa dan rumah vernakular merupakan salah satu wujud nyata dari pengetahuan tersebut. Pameran ini, kata dia, menjadi contoh konkret bagaimana warisan budaya berbasis komunitas dapat diangkat dan dipahami secara mendalam, bukan sekadar dipoles secara superfisial untuk kepentingan pariwisata.

Moe menegaskan, UNESCO secara konsisten menyampaikan kepada pemerintah Indonesia bahwa promosi Borobudur tidak boleh hanya berfokus pada candinya semata. Apresiasi terhadap kawasan sekitar, termasuk desa-desa dan praktik budaya masyarakat, harus dibangun dengan pemahaman yang autentik.

 Baca Juga: Delapan Pelatih Tumbang Sebelum Paruh Musim, Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Soroti Tren Pemecatan di BRI Super League

Pengembangan pariwisata, lanjut dia, tidak bisa dilakukan dengan cara yang dangkal atau dikemas seperti taman hiburan. Dia menilai, pariwisata harus berangkat dari aktivitas dan pengetahuan komunitas itu sendiri. "Pameran ini menjadi salah satu contoh bagaimana pengetahuan desa dapat menjadi fondasi pengembangan pariwisata berbasis masyarakat," kata dia.

Moe menambahkan, arsitektur vernakular seperti Omah Jawa Mbuduran bukan sekadar bangunan fisik, melainkan cerminan nilai, pengetahuan, dan cara hidup masyarakat."Ia menunjukkan bagaimana warisan budaya takbenda hidup berdampingan dan membentuk bagian esensial dari kawasan warisan dunia Borobudur," sambungnya.

 

 

Koordinator Museum dan Cagar Budaya (MCB) Unit Warisan Dunia Borobudur, Wiwit Kasiyati menuturkan, kegiatan ini memiliki keterkaitan erat dengan Outstanding Universal Value (OUV) Borobudur, khususnya atribut yang berkaitan dengan kawasan dan lanskap budaya. "Pameran ini menjadi bagian dari upaya tersebut," sebutnya.

Wiwit menjelaskan, kolaborasi antara MCB, UNESCO, dan PDA telah dimulai sejak tahun sebelumnya melalui pameran vernakular di Brongsongan, Borobudur. Jika pada tahap awal lebih menekankan pada pengenalan, pameran kali ini telah melangkah lebih jauh hingga pada tahap pemahaman dan pengembangan. Tujuannya supaya pengetahuan itu dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kawasan Borobudur.

 Baca Juga: Sudah Comeback Bersama PSS Sleman, Fachruddin Aryanto Masih Terus Dipantau

Dia berharap, pameran ini dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap bangunan vernakular yang mereka miliki. Lantaran banyak rumah tradisional yang terancam punah karena keterbatasan kemampuan pemilik dalam merawatnya, sehingga kerap digantikan dengan bangunan baru atau dialihfungsikan untuk kepentingan komersial.

Direktur Eksekutif PDA Febriyanti Suryaningsih menjelaskan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam proses tersebut karena dinilai merupakan pemegang pengetahuan sekaligus penjaga kelestariannya. "Peran kami adalah membantu mendokumentasikan, menafsirkan, dan membagikan pengetahuan itu agar tetap relevan bagi generasi mendatang," jelasnya.

 Baca Juga: Temukan 50 Pelaku Industri Rumah Tangga Pangan Belum Penuhi Syarat Produksi, Pemkab Gunungkidul Dampingi lewat Bimtek Keamanan Pangan  

Sementara itu, kurator pameran, Rifandi menambahkan, pameran ini menghadirkan beragam kegiatan edukatif dan kebudayaan. Mulai dari lokakarya praktis, talkshow, kolaborasi seniman, program residensi, hingga tur edukatif terpandu.

 

Seluruh rangkaian kegiatan, kata dia, dirancang sebagai ruang belajar bersama yang dinamis. "Pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan praktik seni dan gagasan budaya yang hidup di masyarakat," bebernya.

 

Namun demikian, rumah-rumah vernakular di kawasan ini menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari pelapukan material alami seperti bambu dan kayu, terputusnya transfer pengetahuan antargenerasi, hingga tekanan modernisasi yang sering kali mengesampingkan kearifan lokal.

 

Ancaman tersebut tidak hanya berisiko menghilangkan bangunan fisik, tetapi juga cara hidup yang menopangnya. Sebagai respons, inisiatif dokumentasi kolaboratif dilakukan pada Juli 2024 hingga Februari 2025 dengan melibatkan komunitas lokal, tukang bangunan, perajin, serta pelaku budaya.

 

Inisiatif ini diharapkan dapat menghidupkan kembali praktik-praktik berkelanjutan yang berakar pada tradisi. Seperti penggunaan material lokal, desain pasif, dan pemanfaatan ulang, yang dinilai masih relevan dalam menghadapi tantangan iklim masa kini. (aya)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Borobudur #Kabupaten Magelang #Omah Jawa Mbuduran #UNESCO #balkondes #Pemeran #warisan dunia