KEBUMEN - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kebumen kembali menertibkan pedagang kaki lima (PKL) di Alun-alun Pancasila, Selasa (9/12) petang. Langkah ini diambil setelah banyak dari masyarakat merasa terganggu ketika berolahraga di sekitar area alun-alun.
Sekretaris Satpol PP Kebumen Isnadi menyampaikan, tindakan tegas diambil setelah pihaknya menerima aduan masyarakat. Tidak sedikit masyarakat risih dengan aktivitas PKL yang nekat berjualan di dekat jalur lari atau jogging track.
Keberadaan PKL ini dinilai cukup mengganggu. "Hari ini langsung penertiban. Masyarakat sudah banyak yang mengeluh," kataya, kepada Radar Jogja, Selasa (9/12).
Isnadi mengatakan, penertiban PKL alun-alun sudah berulang kali dilakukan. Namun mereka tetap kembali dan nekat berjualan. Dia menegaskan, penertiban PKL di kawasan alun-alun merujuk Pasal 7 huruf b Perda Nomor 4 Tahun 2020.
Dalam regulasi tersebut diatur larangan penggunaan jalan, taman dan fasilitas umum untuk lokasi berdagang. "Karena PKL menggaggu untuk lari dan olahraga sebagainya," tegas mantan pegawai Sekretariat DPRD Kebumen itu.
Menurut Isnadi, tidak ada alasan bagi PKL berjualan di area alun-alun. Terkecuali di pusat kuliner Kapal Mendoan. Selain itu, ketika agenda car free day dan car free night.
Dia tak menampik para PKL tetap memilih bertahan di alun-alun. Namun, Satpol PP juga tetap akan menjalakan tugas sesuai amanah perda. "Saya yakin sudah pada tahu aturan. Sudah kami ingatkan, kalau tetap ngeyel barang dibawa ke kantor," ungkapnya.
Saat ini, lanjut Isnadi, Satpol PP akan tetap memantau keadaan alun-alun sampai dipastikan steril dari PKL. Pihaknya juga akan rutin patroli di sekitar alun-alun.
Upaya ini diharapkan akan membawa keamaan dan kenyamanan bagi masyarakat. "Kami tunggu sampai pukul 23.00. Hari berikutnya monitoring terus," ungkapnya.
Salah satu PKL yang enggan disebut nama meminta pemerintah daerah mencari solusi agar pedagang tidak selalu menjadi sasaran operasi Satpol PP.
Menurutnya, pemerintah perlu mencari tempat alternatif untuk menampung keberadaan PKL. "Tidak cuma diusir, coba lah kasih solusi. Kami cuma kepengin jualan, cari uang buat anak istri," jelasnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo