Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ratusan Guguran Terjadi tiap Hari, Kepala BPPTKG Sebut Musim Hujan Pengaruhi Ketidakstabilan Kubah Lava Merapi

Naila Nihayah • Rabu, 26 November 2025 | 02:29 WIB

 

Ilustrasi guguran lava pijar Gunung Merapi di Sleman.
Ilustrasi guguran lava pijar Gunung Merapi di Sleman.

 

 

MUNGKID — Memasuki puncak musim hujan, intensitas guguran lava dan material erupsi Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas erupsi masih tinggi dengan ratusan guguran terjadi setiap hari.

Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menjelaskan, peningkatan aktivitas tersebut merupakan pola yang kerap muncul menjelang dan selama musim hujan. Meski demikian, kondisi Merapi dinilai tetap aman bagi warga yang tinggal di sekitar lereng.

"Kondisi Gunung Merapi saat ini masih tinggi erupsinya. Setiap hari itu ratusan kali guguran, sesekali ada awan panas. Tapi aktivitas masih aman meskipun intensitas erupsinya tinggi," ujarnya di Keningar, Dukun, Kabupaten Magelang, Selasa (25/11).

Menurut Agus, batas luncuran guguran saat ini hanya mencapai dua kilometer (km) dari puncak. Itu berarti jauh dari kawasan permukiman terdekat yang berada dalam radius 6,5 km setelah Kali Boyong. Sehingga masih aman dan warga bisa beraktivitas seperti biasa.

BPPTKG menilai, peningkatan aktivitas guguran saat ini merupakan fenomena wajar akibat pengaruh cuaca. Hujan yang mulai intens pada bulan ini membuat kubah lava lebih mudah mengalami ketidakstabilan sehingga memicu lebih banyak guguran.

"Musim hujan ini juga menjadi pengaruh ketidakstabilan kubah. Wajar ketika November sampai Februari nanti, intensitas guguran akan meningkat," kata Agus.

Namun, dia menegaskan, peningkatan tersebut tidak mengarah pada kondisi berbahaya. Buktinya, sejak berstatus Siaga pada November 2020, meskipun intensitas gugurannya meningkat pada musim hujan, kondisi itu tidak membahayakan karena gugurannya tidak terlalu jauh.

Dalam catatan pemantauan sejak 2021, jarak luncuran awan panas guguran (APG) terjauh mencapai lima km ke arah Kali Gendol. Sementara skenario terburuk yang dipersiapkan BPPTKG memprediksi potensi luncuran maksimal di radius tujuh km.

Baca Juga: Gencarkan Sosialisasi, Cegah Peredaran Rokok Ilegal di Kulon Progo

"Sejauh ini erupsinya baru sampai dua km. Jadi masih jauh dari skenario yang kita buat," lontarnya.

Meskipun kondisi dinyatakan aman, BPPTKG mengimbau agar warga di sejumlah kawasan tetap meningkatkan kewaspadaan. Terutama di sektor tenggara dan barat daya seperti Glagaharjo, Keningar, serta wilayah Kaliurang.

Agus mengingatkan, selain aktivitas dominan ke barat daya, kubah lava juga tumbuh di tengah kawah yang berpotensi meluncurkan material ke arah Kali Gendol.

"Kita tidak boleh lupa ada kubah lava di tengah kawah. Itu arahnya ke Kali Gendol. Jadi wilayah-wilayah tersebut tetap perlu waspada," ujarnya.

Agus juga menepis anggapan bahwa aktivitas Gunung Semeru yang beberapa waktu terakhir meningkat dapat memengaruhi kondisi Merapi.

"Ibarat keluarga, Semeru dan Merapi punya dapurnya masing-masing. Jadi tidak saling berpengaruh, dan mereka berjauhan," tegasnya. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#dukun magelang #Gunung Merapi #musim hujan #BPPTKG #Kubah Lava #Guguran #Agus Budi Santoso #Kali Boyong