KEBUMEN – Dua belas desa di tiga kecamatan terendam banjir akibat cuaca ekstrem yang terjadi sejak Minggu (23/11) petang. Hujan tanpa henti di wilayah setempat membuat area permukiman tergenang air. Adapun banjir terjadi dengan ketinggian air berkisar 30-60 centimeter.
Bako Humas Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen Heri Purwoto menjelaskan, sebagian desa yang terendam banjir akibat Sungai Kedungbener tak mampu menampung debit air hujan, sehingga meluap ke area permukiman.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir tersebut. Hingga kini petugas BPBD bersama relawan masih terus memantau perkembangan akibat dampak banjir.
"Personel kami kerahkan untuk penanganan. Sambil pantau pintu air yang rawan," kata Heri kepada Radar Jogja, Senin (24/11).
BPBD mencatat, banjir tersebar di tiga kecamatan. Wilayah paling parah terdampak banjir yakni di Kecamatan Alian. Masing-masing di Desa Krakal, Kalirancang, Sawangan, Seliling, Surotrunan dan Bojongsari.
Sedangkan di Kecamatan Karangsambung, banjir terjadi di Desa Plumbon. "Di Desa Krakal, kendaraan roda dua dan roda empat sempat tidak bisa jalan, tapi sekarang sudah surut," katanya.
Selain itu, banjir juga melanda Kecamatan Kebumen. Tercatat ada lima desa yang tergenang banjir, yaitu Desa Roworejo, Jatisari, Tanahsari, Jatimulyo dan Sumberadi.
Tak hanya banjir, di hari yang sama BPBD juga mencatat ada dua titik tanah longsor di Desa Giyanti, Kecamatan Rowokele. "Total terdampak 515 kepala keluarga. Jumlahnya 4.695 jiwa," terangnya.
Saat ini, lanjut Heri, sebagian besar wilayah yang terendam banjir mulai berangsur surut. Kendati begitu, masyarakat diimbau tetap waspada mengingat cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlangsung.
Tim BPBD Kebumen juga telah bergerak dengan mengirim bantuan permakanan sekaligus peralatan kebencanaan. "Tim di lapangan sudah bergerak. Bantuan makana juga sudah dikirim," ucapnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo