KEBUMEN - Dewan Kebudayaan Daerah Kebumen mengajak masyarakat tidak malu bahkan antipati terhadap bahasa Ngapak. Masyarakat diminta tetap menggunakan bahasa Ngapak dalam kehidupan sehari-hari karena sebagai bentuk pelestarian budaya.
Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Kebumen Basikun Mualim menegaskan, penggunaan bahasa daerah sejatinya menjadi simbol kebanggaan terhadap budaya dan kekayaan lokal. Dia tak menampik bahasa Ngapak kini mulai tergeser seiring perubahan modernisasi.
Oleh karena itu, pihaknya akan menyiapkan formulasi agar bahasa daerah khas Kebumen tetap eksis dan relevan sesuai perkembangan zaman. "Ngapak itu bukan sesuatu yang memalukan. Ngapak itu jati diri," tegasnya saat pengukuhan pengurus Dewan Kebudayaan Daerah Kebumen di Padepokan Suman Sri Husodo Jumat (14/11).
Basikun alias Ki Petruk menyatakan, anggapan penggunan bahasa Ngapak terkesan lucu dan kaku adalah tidak benar. Justru sebaliknya, dari bahasa khas tersebut menjadi nilai tersendiri. Sebagai wujud rasa cinta sekaligus upaya pelestarian budaya, dia menaruh harap agar ke depan ada pembiasaan penggunaan bahasa Ngapak di ruang publik. Baik di kegiatan formal maupun percakapan sehari-hari.
"Jangan-jangan kita lebih bangga dengan budaya daerah lain. Tapi kalau ngomong jati diri, mestinya bangga dengan bahasa sendiri," ujarnya.
Belakangan, bahasa Ngapak mulai dipopulerkan sejumlah konten kreator lewat media sosial. Langkah ini dianggap cukup efektif menarik minat generasi muda agar lebih percaya diri dengan bahasa daerahnya sendiri. "Ke depan akan kami pertegas. Bagaimana bahasa Ngapak, itu langsung nyantol, oh ini orang Kebumen," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kebumen Frans Haidar mendukung penuh program maupun kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian kebudayaan. Dia menegaskan, sektor budaya masuk dalam visi dan misi pembangunan daerah. Karena budaya sendiri berperan penting dalam pembetukan karakter masyarakat.
Frans menyebutkan, Kebumen memiliki begitu banyak kekayaan budaya. Dia yakin, potensi ini dapat menjadi daya tarik daerah secara berkelajutan. Sekaligus juga sarana inkulturasi dan pemahaman nilai luhur budaya agar jati diri sebagai 'Wong Kebumen' tidak hilang. "Tugas kita semua menjaga supaya tidak cuma lestari, tapi relevan dengan perkembangan zaman," tegasnya. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita