KEBUMEN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen telah mendaftarkan 2.661 pekerja rentan masuk dalam kepesertaaan Badan Penyeleggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakejaan. Program ini bergulir untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi kelompok pekerja rentan dengan kategori berpenghasilan rendah.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kebumen Cokro Aminoto menjelaskan, dari total 2.661 penerima manfaat jaminan sosial terbagi untuk dua jenis pekerjaan.
Yakni, buruh tani tembakau sebanyak 939 orang dan penderes nira kelapa sejumlah 1.722 orang. "Penerima manfaat sudah tervalidasi. Pakai data lintas sektor," katanya, kepada Radar Jogja, Kamis (13/11).
Pemkab, kata Cokro, telah mengalokasikan anggaran senilai Rp 310 juta untuk pembayaran premi BPJS Ketenagakerjaan. Anggaran tersebut diambil dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). "Bisa saja ke depan pekerja sektor lain. Tapi prinsipnya lihat dulu pagu aggaran, memungkinkan atau tidak," ucapnya.
Dikatakan, perlindungan sosial bagi kelompok pekerja rentan ini merupakan jalan yang ditempuh pemkab untuk peningkatan kesejahteraan pekerja nonformal. Dengan begitu diharapkan mampu menekan angka kemiskinan di Kebumen.
Cokro menambahkan, pendaftaran pekerja rentan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan adalah wujud nyata pemkab kepada mereka yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk mengakses jaminan sosial.
Dari progam ini penerima manfaat mendapatkan dua jenis perlindungan, meliputi jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian. "Kalau untuk penderes, ini pertama menerima. Mereka itu bekerja risiko tinggi," ucapnya.
Pemkab telah menanggung iuran rutin BPJS Kesehatan Rp 16.800 per peserta. Ditegaskan, program jaminan sosial ini akan terus diperluas cakupannya agar penerima manfaat lebih merata.
"Masa perlindungan bermacam-macam. Kami sesuaikan anggaran dan kuota. Ada aturan dan mekanismenya," bebernya.
Camat Buayan Nur Wahyudi menyambut baik progam jaminan sosial yang menyasar penderes nira. Dia menjelaskan, Kecamatan Buayan merupakan wilayah penghasil gula unggulan.
Tidak sedikit masyarakat menggatungkan hidup dari menderes nira sebagai bahan baku utama gula. Dia berharap program ini terus berlanjut serta cakupan diperluas. "Doa ketika kerja itu tidak terjadi apa-apa. Cuma ini bentuk antisipasi karena sudah banyak yang jatuh dari pohon," ungkapnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo