KEBUMEN - Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah menjadi sasaran program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dari pemerintah pusat.
Guna mendukung program ini Kementerian Kelauatan dan Perikanan (KKP) mengucurkan anggaran fantastis senilai Rp 10,1 miliar.
Kepala Desa Karangduwur Sutono menyampaikan, program KNMP yang dicanangkan pemerintah melalui KKP menjadi angin segar bagi warga dan nelayan desa khususnya.
Dia tak menyangka, Desa Karangduwur masuk dalam daftar 65 lokasi sasaran KNMP tahap pertama secara nasional.
"Sekarang sedang dilaksanakan pembangunan. Anggarannya Rp 10 miliar lebih," ungkap dia kepada Radar Jogja, Rabu (5/11/2025).
Dia optimistis bergulirnya program tersebut berdampak positif terhadap kesejahteraan nelayan.
Menurutnya bergulirnya KNMP sejalan dengan harapan pengembangan kawasan pesisir yang produktif dan berkelanjutan.
Dia yakin program prioritas nasional ini membawa nilai manfaat untuk penguatan ekonomi lokal berbasis sumber daya laut.
"Kami harap nanti tertata rapi dan terintegrasi. Antara usaha wisata, pedagang dan nelayan bisa jalan beriringan," ungkapnya.
Sutono menerangkan, Desa Karangduwur memiliki potensi cukup melimpah, mulai dari sektor pariwisata, perikanan dan kelautan hingga UMKM.
Masing-masing sektor selama ini telah menjadi sumber penghidupan warga setempat.
Menurutnya, konsep dan gagasan KNMP akan menjadi pelecut motivasi untuk mewujudkan masyarakat pesisir lebih berdaya saing.
"Mayoritas warga kami nelayan. Jumlahnya sekitar 700 orang. KNMP Ini peluang bagi mereka," tegasnya.
Sementara itu, Manajer Pelaksana Proyek KNMP Desa Karangduwur Hari Prasetyo mengatakan, saat ini progres pekerjaan telah mencapai 48 persen dari target 47,65 persen.
Di dalam proyek ini sedang dikerjakan sejumlah bangunan pendukung KNMP, seperti gapura, pabrik es, kios kuliner dan perbekalan, rumah genset, balai pertemuan, kantor pengelola hingga musala.
Dia menjelaskan, proyek pembangunan tersebut difokuskan untuk menata ulang kawasan di sekitar TPI Karangduwur.
Dengan begitu diharapkan dapat memudahkan segala aktivitas nelayan. Rencanaya, proyek ini berlangsung selama 108 hari kalender dengan target penyelesaian pada pertengahan Desember 2025.
"Minggu ini progres kerjaan sudah melebihi target. Kami juga tidak bisa memutus begitu saja aktivitas nelayan dan pedagang," terangnya. (fid/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita