Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perajin Tahu di Kabupaten Kebumen Menanti Keberpihakan Program MBG

Muhammad Hafied • Kamis, 23 Oktober 2025 | 04:15 WIB
INDUSTRI RUMAHAN: Perajin tahu di sentra tahu Desa Kemitir, Kecamatan Kebumen menunjukkan produk tahu unggulan dengan citra rasa khas.
INDUSTRI RUMAHAN: Perajin tahu di sentra tahu Desa Kemitir, Kecamatan Kebumen menunjukkan produk tahu unggulan dengan citra rasa khas.

KEBUMEN - Program makan bergizi gratis (MBG) tampaknya belum begitu membawa manfaat bagi pelaku usaha kecil. Seperti dirasakan perajin tahu di sentra produksi tahu Desa Kemitir, Kecamatan Kebumen. Mereka mengaku masih menanti keberpihakan pemerintah untuk dilibatkan dalam program MBG.

Salah satu perajin tahu Hardiono Santoso, 37, mengungkapkan, bergulirnya program MBG sebanarnya menjadi peluang besar bagi para perajin tahu. Namun kembali lagi, belum ada langkah konkret dari pemerintah kepada perajin tahu sebagai pemasok bahan baku MBG. "Dari awal MBG belum ada yang pesan," jelasnya kepada Radar Jogja Rabu (22/10).

Dia mengaku, ada keterbatasan saat hendak menjalin kerja sama dengan mitra atau dapur pengelola MBG. "Bingung mau koodinasi ke siapa," lontarnya.

Dia menegaskan, pemerintah mestinya dapat memastikan program MBG tepat guna dan tepat sasaran. Sebab pencanangan program ini menurutnya memiliki niat mulia. Yakni, menciptakan efek berlipat tidak hanya fokus pada peningkatan gizi, tetapi juga penguatan ekonomi kerakyatan. Kendati begitu, fakta di lapangan masih jauh dari harapan.

Ditegaskan, perajin tahu sekarang dihimpit sejumlah persoalan. Mereka dituntut tetap bertahan menjaga kualitas produksi dan harga jual di tengah mahalnya bahan baku.

Kondisi ini semakin parah karena dukungan pemerintah masih cukup terbatas untuk melibatkan industri tahu rumahan atas program ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat. "Kalau misal goal bisa masuk MBG, senang sekali karena hitungannya pasti," ucapnya.

Perajin tahu lain, Obix Suryadi, 39, mengatakan, meski beberapa kali dirinya sempat menerima order tahu untuk MBG, menurutnya sejauh ini serapannya masih belum optimal. Dia berharap implementasi pemenuhan gizi masyarakat melalui MBG menjadi peluang tersendiri bagi perajin tahu lokal. "Di sini sudah ada yang dapat, ada juga yang belum. Punya saya dapat 20 kilogram. Itu juga baru dua dapur," ucapnya.

Di satu sisi, dia meminta ketika menjadi pemasok kebutuhan dapur MBG supaya sistem pembayaran tidak telalu berbelit dan lama. Hal ini dinilai penting karena menyangkut kondisi permodalan. "Hitungan untung sih tetap untung, cuma pembayaran agak lama. Pakai sistem tempo," kata dia. (fid/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pelaku usaha #pemenuhan gizi #Mbg #kebumen #pemerintah #Perajin Tahu #Perajin #sentra #produksi tahu #Program makan bergizi gratis (MBG)