KEBUMEN - Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kebumen sedang menelusuri temuan yang diduga sebagai situs sejarah berupa lingga dan yoni di Desa Sumberadi, Kecamatan Kebumen. Penelusuran ini dilakukan dengan metode ekskavasi atau penggalian di titik temuan tersebut.
Ketua TACB Kebumen Chusni Ansori menegaskan, ekskavasi sengaja dilakukan untuk menggali data dan informasi secara ilmiah terhadap sesuatu yang selama ini masih terpendam di bawah tanah. Peneliti utama Kampus BRIN Karangsambung ini menegaskan, hasil ekskavasi untuk memastikan nilai historis dan arkeologis yang terkandung.
"Dari ikhtiar ini tentu kami ingin sajikan khazanah keilmuan sejarah kepada masyarakat yang mungkin belum terungkap," jelasnya kepada Radar Jogja Selasa (21/10).
Chusni menyampaikan, ekskavasi lingga dan yoni merupakan bentuk komitmen TACB dalam pelestarian budaya. Sebab situs tersebut menjadi simbol kesuburan dan keseimbangan alam yang merujuk masa Hindu pada era terdahulu. "Temuan ini warisan tak ternilai. Harapan kami bisa menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat terkait peradaban era lampau di Kebumen," ucapanya.
Ekskavasi tersebut berlangsung dengan menggandeng pemerintah desa setempat dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X. Kegiatan juga didukung dengan keterlibatan sejumlah tokoh dari berbagai disiplin ilmu. Seperti geologi, arsitek, arkeologi serta sejarawan dan budayawan.
Dari hasil ekskavasi, sementara tim menemukan adanya struktur bangunan kuno. Di antaranya berupa batu bata dengan kondisi utuh berukuran 40x20x10 centimeter.
Tak hanya itu, di sekitar lingga dan yoni juga ditemukan kepingan keramik dan komponen batuan serta karbon di bawah permukaan tanah. Temuan ini menurut tim menjadi satu indikasi di lokasi tersebut merupakan bagian dari situs lebih luas.
Arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Wardiyah menyampaikan, ekskavasi menjadi langkah konkret dalam upaya mencari data arkeologis yang tersimpan di dalam tanah. Aktivitas penggalian ini juga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena dilakukan oleh tenaga ahli yang berkompeten dibidangnya.
Ditegaskan, ekskavasi dan penetapan cagar budaya bukan akhir dari seluruh proses. Melainkan awal kerja bersama antara TACB, pemerintah desa dan pemerintah daerah. "Lingga-yoni ini potensi sangat berharga. Lewat perencanaan matang, kawasan ini bisa menjadi destinasi wisata edukatif," katanya. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita