MUNGKID — Gereja Katolik melalui Kevikepan Kedu kembali menegaskan komitmennya terhadap isu kemanusiaan dan ketahanan pangan dengan menggelar Peringatan Hari Pangan Sedunia 2025. Ada banyak kegiatan yang digelar di Paroki Santo Antonius Muntilan. Mulai dari gelar budaya, bazar UMKM, hingga festival band.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 17-19 Oktober 2025 ini bukan sekadar perayaan keagamaan. Tetapi juga wadah pemberdayaan ekonomi dan pelestarian kearifan pangan lokal.
KeBaca Juga: Asal Usul Toga Wisuda: Dari Busana Gereja Katolik ke Simbol Akademik
tua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Kevikepan Kedu Romo Agustinus Gionnobmenjelaskan, gereja Katolik secara konsisten merayakan Hari Pangan Sedunia setiap tahun. Upaya iti sebagai bentuk keprihatinan terhadap persoalan kemiskinan, akses pangan, dan ketimpangan sosial.
Peringatan ini, kata dia, bukan sekadar seremoni liturgis, tetapi wujud nyata kepedulian gereja terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. "Tahun ini kami memilih fokus pada pemberdayaan pelaku UMKM paroki agar bisa tumbuh dan mandiri," ujar Romo Gionno, Minggu (19/10).
Dia menuturkan, kegiatan ini digelar bergilir antar-rayon di wilayah Kevikepan Kedu, dengan tahun ini berfokus di rayon selatan. Seluruh 13 paroki, mulai dari Parakan, Borobudur, hingga Ngablak, turut berpartisipasi menampilkan berbagai produk pangan dan hasil kerajinan lokal.
uBaca Juga: Ramai, Program Sunmor Diperinkop UKM Kota Jogja Sukses Jadi Wadah UMKM Kampung Klitren Berkembang
"Kami ingin membangun jejaring antar pelaku UMKM Katolik agar mereka bisa saling belajar, memperluas pasar, dan memperkuat fondasi ekonomi berbasis komunitas," jelasnya.
Selain menghadirkan bazar UMKM kuliner dan nonkuliner, panitia juga memberikan pelatihan legalitas usaha. Termasuk pengurusan izin PIRT dan sertifikasi halal, agar produk lokal memiliki daya saing dan bisa menembus pasar yang lebih luas.
Ketua panitia, Yohanes Tio Budi Utomo menambahkan, kegiatan dibuka dengan perarakan gunungan hasil bumi dari kompleks PPSM menuju Gereja Santo Antonius Muntilan. Arak-arakan yang berlangsung selama 45 menit itu menjadi simbol syukur atas karunia alam sekaligus ajakan untuk merawat bumi.
"Peringatan tahun ini merupakan penyelenggaraan ketiga. Tahun 2023 di Borobudur, 2024 di Ngablak, dan tahun ini di Muntilan. Tahun depan kami rencanakan bergilir ke rayon tengah," ujar Yohanes.
Selama tiga hari, kawasan gereja berubah menjadi ruang publik yang semarak. Beragam pertunjukan seni tradisional, seperti topeng ireng, gedrug, dan wayangan, digelar berdampingan dengan penampilan band Orang Muda Katolik (OMK).
Acara ini, lanjut Yohanes, menjadi sarana membangun semangat lintas iman dan budaya melalui medium pangan dan seni lokal. "Kami ingin Hari Pangan Sedunia menjadi pengingat bahwa bumi yang terjaga adalah rumah bagi semua, tanpa memandang agama atau latar belakang," ucapnya.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai, inisiatif gereja ini menjadi contoh nyata bagaimana komunitas keagamaan berperan dalam menjaga kedaulatan pangan dan solidaritas sosial di tingkat akar rumput.
Menurutnya, gereja dan komunitas lintas iman punya posisi strategis dalam membangun kesadaran bersama tentang pangan dan lingkungan. "Kolaborasi lintas sektor seperti ini sangat penting untuk mewujudkan Magelang yang berdaulat pangan dan berkeadilan," katanya.
Dia juga menekankan pentingnya pelibatan generasi muda dalam isu pertanian dan ketahanan pangan, agar sektor ini tidak hanya dilihat sebagai warisan, tetapi juga peluang masa depan. (aya)
Editor : Herpri Kartun