Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bakteri Jadi Biang Kerok Keracunan MBG di Kebumen, Penggunaan Air dalam Pengolahan Makanan Tidak Higienis

Muhammad Hafied • Rabu, 8 Oktober 2025 | 02:50 WIB

 

Kepala Dinkes PPKB Kebumen Iwan Danardono
Kepala Dinkes PPKB Kebumen Iwan Danardono

KEBUMEN - Kasus keracunan massal yang menimpa 101 pelajar penerima program makan bergizi grtais (MBG) di Kecamatan Petanahan pada Kamis (25/9) lalu telah menemui titik terang. Berdasar hasil uji laboratorium, disimpulkan bahwa penyebab keracunan dipicu faktor mikrobiologi. Menu MBG yang dikonsumsi para pelajar terkontaminasi bakteri E-Coli dan Bacillus Cereus.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kebumen Iwan Danardono menyampaikan, jenis bakteri tersebut diketahui menjadi penyebab utama pelajar keracunan. Penemuan bakteri ini diduga kuat karena penggunaan air dalam pengolahan makanan yang tidak higienis. "Pengaruhnya di E-Coli yang menyebabkan keracunan," ungkap Iwan kepada Radar Jogja Selasa (7/10).

Iwan menjelaskan, secara aturan standar baku mutu kesehatan lingkungan pada media air harus steril dari paparan bakteri E-Coli. Hal ini menjadi persyaratan standar guna menghindari gangguan kesehatan dan penyakit akibat bakteri patogen. "Satu bakteri E-Coli itu tidak boleh. Harusnya nol, tidak boleh ada," jelasnya.

Adapun saat ini hasil uji laboratorium sampel makanan telah diserahkan ke satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), pihak yayasan dan perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN). Dinkes, kata Iwan, telah memberikan waktu agar SPPG segera menangani temuan bakteri secara komperehensif.

Tak hanya itu, dia juga meminta pihak SPPG membuat laporan terkait progres sekaligus hasil penanganan temuan bakteri. "Bakteri bisa nol, pakai treatment khusus. Misal kaporitisasi sampai benar-benar hilang. Kalau itu bisa ya sudah cukup," kata Iwan.

Lebih lanjut, Iwan mengimbau agar 60 lebih unit dapur MBG di Kebumen senantiasa menjalankan standar operasional prosedur. Termasuk dengan penyertaan dokumen sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) untuk menjamin kualitas dan mutu makanan dalam program MBG. Dia tak ingin kasus keracunan serupa terjadi akibat dapur MBG abai terhadap standar prosedur. "Harus punya SLHS tanpa terkecuali. Kami fokus ke arah situ," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Sleman yang membawahi area Jogja dan Jawa Tengah Selatan Harsono Budi Waluyo meminta maaf atas insiden keracunan yang sempat terjadi. Dalam hal ini, BGN akan terus melakukan evaluasi agar program MBG benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. "Terhadap hal yang terjadi, kami sudah lakukan perbaikan," ucapnya. (fid/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#kasus keracunan #bakteri patogen #Mbg #kebumen #bakteri #e-coli #pelajar #keracunan #Program makan bergizi gratis (MBG) #bacillus cereus #Petanahan