Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Khidmatnya Pernikahan Pertama Warga Sapta Darma di Magelang, Menyatu dalam Sujud Nur, Ikatan Sekali Seumur Hidup

Naila Nihayah • Kamis, 2 Oktober 2025 | 03:00 WIB

 

KHIDMAT: Pernikahan pengantin Sapta Darma di Maron, Temanggung, Kaliangkrik berjalan lancar Rabu (1/10).
KHIDMAT: Pernikahan pengantin Sapta Darma di Maron, Temanggung, Kaliangkrik berjalan lancar Rabu (1/10).

MUNGKID - Untuk kali pertama, pernikahan warga Sapta Darma resmi digelar dan dicatatkan tanpa hambatan. Di atas selembar kain mori putih yang terbentang, dua insan muda duduk bersisian. Mereka menundukkan kepala, menautkan doa, lalu bersujud hening menghadap timur.

Dalam keheningan itu, bukan hanya janji pernikahan yang terucap. Melainkan juga sebuah penyerahan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa.

Seusai prosesi, binar bahagia tampak jelas dari raut wajah Eko Ristiyanto, 23. Pemuda asal Temanggung yang resmi mempersunting Sendi Listiana, 18, gadis dari Magelang Rabu (1/10). Seolah tengah berbuka usai berpuasa sehari penuh.

"Bahagia sekali rasanya. Dari awal memang sudah kami niatkan untuk menikah sesuai kepercayaan yang kami anut, yaitu Sapta Darma," kata Eko.


Sendi yang duduk di sampingnya pun ikut tersenyum malu. Namun mata berbinarnya tak bisa dia sembunyikan. "Senang, karena ini pengalaman berharga. Dari awal sudah diberitahu seperti apa prosesinya, jadi saya bisa menjalaninya dengan lancar," timpal Sendi.


Pernikahan Sapta Darma memiliki urutan prosesi yang khas. Rangkaian dimulai dengan serah terima mempelai, dilanjutkan sujud nur, pengucapan janji, hingga wejangan penutup.

Kain mori putih yang mereka duduki bersama bukanlah sekadar alas. Kain itu melambangkan penyatuan dua jiwa dalam satu ikatan suci. Jika biasanya warga Sapta Darma bersujud secara mandiri, kali ini kedua mempelai sujud dalam satu lembar kain. Tanda bahwa hidup mereka kini telah manunggal.

Terlebih, dalam Sapta Darma, pernikahan bukan hanya ikatan sosial. Tetapi juga rohani yang sekali seumur hidup. Itulah mengapa momen ini terasa begitu sakral.

Setelah sujud nur, kedua mempelai mengucapkan janji untuk hidup harmonis sesuai ajaran Sapta Darma. Yakni menjauhi keburukan, menjaga kesetiaan, serta menata kehidupan menuju kelanggengan.

Tidak hanya mempelai pengantin saja yang melakukan sujud. Orang tua serta keluarga keduanya juga turut ambil bagian dalam sujud tersebut.

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Kabupaten Magelang #Tuntunan Kerohanian Sapta Darma Kabupaten Magelang #agama #komunitas #penghayat kepercayaan #Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa #sapta darma #pernikahan #tradisi #temanggung