MUNGKID - Suasana Museum H Widayat terasa berbeda. Begitu melangkah ke halaman museum, aroma nostalgia menyergap. Pintu-pintu ruang yang biasanya tertutup kini terbuka lebar, menyuguhkan dunia pribadi seorang maestro lukis yang dijuluki Bapak Lukisan Dekoratif, yakni H Widayat.
Untuk kali pertama, hampir seluruh ruangan di Museum H Widayat dibuka untuk publik. Dari joglo hingga rumah pribadi, dari studio hingga galeri. Setiap ruang bercerita. Ada meja kerja yang masih menyimpan noda cat, ada foto-foto keluarga yang menangkap senyum hangat, ada guci dan patung yang dikoleksi Widayat dari berbagai perjalanan.
Dia menyebut, Widayat lahir di Kutoarjo, 9 Maret 1919 dan meninggal dunia pada 2022 dalam usia 83 tahun. Selama hidupnya, sang kakek meninggalkan ribuan karya dalam beragam medium. Seperti lukisan, patung, grafis, batik, hingga terakota.
Di galeri utama, puluhan lukisan karya Widayat dihadirkan berdampingan dengan karya 16 seniman muda pilihan kurator. Sebuah paduan lintas generasi. Warna dekoratif khas Widayat bertemu dengan ekspresi segar anak muda, menghadirkan percakapan visual yang kaya.
Fajar ingin, pameran ini sebagai bentuk mengenalkan kepada publik. Ahwa Widayat itu ada. "Karya, museum, artefaknya semua masih hidup. Tinggal bagaimana kita merawatnya, menikmatinya, dan menjadikannya sumber inspirasi," lontarnya.
Bagi Oei Hong Djien (OHD), kolektor dan sahabat lama, sosok Widayat tidak bisa dilepaskan dari sejarah seni rupa Indonesia. Dia sudah mengenal Widayat sejak 1988. Bahkan, dari perencanaan museum ini, dia dilibatkan.
"Koleksi saya ada ratusan karya Widayat. Beliau dekat sekali dengan saya, jadi apa yang dipamerkan di sini terasa akrab," ujarnya.
Kedekatan itu menunjukkan bahwa Widayat bukan hanya pelukis besar, melainkan pribadi yang mampu menjalin hubungan erat dengan sesama pegiat seni. Baginya, karya seni adalah ruang pertemuan, bukan sekadar benda mati. (aya)