KEBUMEN - Kasus keracunan massal yang menimpa 101 pelajar di wilayah Kecamatan Petanahan, Kebumen masih diselidiki. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kebumen sudah mengambil sampel makanan untuk dilakukan uji laboratorium.
Ketua Tim Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja pada Dinkes PPKB Kebumen Martanto menyampaikan, tim langsung turun ke lokasi begitu mendapat laporan adanya insiden keracunan massal. Pihaknya sudah mengambil sampel makanan yang dikonsumsi korban. Selanjutnya sampel makanan tersebut dibawa ke laboratorium kesehatan guna mengetahui penyebab pasti keracunan. "Makanan dan ompreng dikirim ke Labkesda dan BTKL (BB Labkesmas, Red) Jogjakarta," ucapnya, Jumat (26/9).
Baca Juga: LLDIKTI Wilayah V Gandeng Satker Bangun Zona Integritas, Fokus Tingkatkan Reformasi Birokrasi
Dia tidak berani berspekulasi apa faktor penyebab yang mengakibatkan ratusan pelajar keracunan usai menyantap menu MBG. Adapun hasil uji laboratorium sampel makanan diperkirakan akan keluar 5-6 hari ke depan. "Menu hari itu ada soto dan perkedel. Sampel sudah kami kirim," bebernya.
Berdasar penelusuran Radar Jogja, penyedia menu makanan MBG tersebut berasal dari Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Saka Tunggal Bersama. Diketahui yayasan ini telah melayani program MBG di wilayah Kecamatan Petanahan sejak bulan Agustus 2025 lalu. SPPG yang berada di Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan ini mampu menyediakan menu MBG dengan kapasitas 3.780 porsi per hari.
Sementara itu, Ketua DPRD Kebumen Saman mendesak agar program MBG dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Dia menegaskan, kasus kercaunan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat. "Satu atau dua korban bagi kami sudah banyak. Apalagi ini sampai ratusan. Maka, harus ada evaluasi," katanya.
Saman mengaku perihatin dengan peristiwa keracunan hingga mengakibatkan pelajar harus dilarikan ke rumah sakit. Dia berharap kejadian serupa tidak terulang. Upayanya dengan melakukan pengawasan secara intensif, baik dari sisi penyediaan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan. "Saya sudah cek dan bertanya langsung ke korban. Tentu kami perihatin. Jangan sampai terulang dan rakyat jadi korban," tegas Saman.
Baca Juga: AWMI Bercita-cita Jadikan Muaythai Cabor Unggulan di Indonesia
Sebelumnya, Kamis (25/9) sebanyak 101 pelajar di Kecamatan Petanahan mengalami gejala keracunan usai menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasar data yang diterima Radar Jogja, 101 pelajar terdiri dari 5 pelajar dari SDN Ampelsari, 26 dari SDN Tegalretno, SDIT Imam Syafii 15 pelajar, Paud Munggu 1 pelajar, Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) 54 pelajar. Data tersebut diperoleh pada pukul 21.40.
Para pelajar tersebut dirujuk ke dua lokasi berbeda. Yakni, di PKU Muhammadiyah Petanahan dan Puskesmas Petanahan. Saking banyaknya pasien, pihak puskesmas terpaksa memberikan perawatan medis di aula dan ruang lain akibat keterbatasan tempat. "Karena ruangan kami tidak cukup, hanya 10 bed. Kami manfaatkan aula untuk perawatan," ungkap Kepala Puskesmas Petanahan dr R Sunarko Slamet. (fid)
Editor : Sevtia Eka Novarita