Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pameran Gema Nusantara di Museum BPK RI Kota Magelang Tampilkan Radio Era Sebelum Kemerdekaan hingga Digital

Naila Nihayah • Selasa, 23 September 2025 | 05:00 WIB

 

NOSTALGIA: Puluhan radio lawas memenuhi ruang hampa di Museum BPK RI Kota Magelang, Senin (22/9).
NOSTALGIA: Puluhan radio lawas memenuhi ruang hampa di Museum BPK RI Kota Magelang, Senin (22/9).

MAGELANG - Di tengah dominasi layar kaca dan gawai digital, dentingan nostalgia justru mengalun dari benda-benda tua yang kerap terlupakan, yakni radio. Puluhan radio lawas dari berbagai zaman kini dipamerkan dalam pameran bertajuk Gema Nusantara: Mendengar Ulang Peradaban Suara yang digelar di Museum BPK RI Kota Magelang, 22 September hingga 6 Oktober 2025.

 

 

Sebanyak 80 radio dipajang, mulai dari era sebelum kemerdekaan hingga model radio modern. Deretan perangkat itu mayoritas berasal dari koleksi pribadi kurator sekaligus kolektor radio, Dimas Indra Febriyanto. Dari jumlah itu, sekitar 75 persen adalah milik dia. Sisanya dari anggota Komunitas Pecinta Audio Lawas (Kompas).

 Baca Juga: BMKG Dorong Petani Siap Hadapi Perubahan Cuaca

Bagi Dimas, setiap radio punya cerita. Lelaki yang pernah menjadi penyiar ini mengaku, koleksinya lebih dari sekadar benda antik. Ia ingin mengabadikan kenangan, saat suara radio dulu menjadi teman setia masyarakat di ruang-ruang sunyi.

Bahkan, saat ini, dia sudah memiliki ratusan radio lawasan. Dari era sebelum kemerdekaan hingga orde baru. Namun, dia tidak asal membeli. "Harus selektif, terutama soal harga. Kalau terlalu tinggi, ya, tidak saya ambil. Biasanya kisaran Rp 3 jutaan," katanya, Senin (22/9).

 Baca Juga: Yoga Andry, Pelaku Pembunuhan Sopir Taksi Online di Bantul Dituntut Hukuman Mati

Yang ditampilkan dalam pameran ini kebanyakan radio keluaran sebelum 1980-an. Ada yang besar dengan kayu mengilap, ada pula radio portabel berdesain ringkas. Menariknya, radio itu masih berfungsi dan bisa didengar suaranya.

 

Tidak hanya menyajikan perangkatnya, pengunjung juga bisa melihat dokumen pendukung. Mulai dari kwitansi, surat izin, hingga pajak radio sejak era kolonial Belanda hingga pascakemerdekaan.

 Baca Juga: Ini Persyaratan Penerimaan Pa PK TNI (Reguler) TA 2025

Kini, meski digitalisasi kian masif, radio tak sepenuhnya ditinggalkan. Dimas meyakini, eksistensi radio masih bisa dipertahankan dengan inovasi. Dia optimistis radio akan tetap hidup. "Salah satunya lewat kegiatan seperti ini, yang menghubungkan generasi muda dengan sejarah sekaligus masa depan radio," bebernya.

 

Momentum pameran ini bertepatan dengan perayaan Hari Radio Nasional ke-80. Peringatan tersebut seakan menjadi pengingat bahwa suara-suara yang dulu dipancarkan melalui gelombang radio, pernah menjadi saksi perjalanan bangsa, dari masa perjuangan hingga kemerdekaan.

 Baca Juga: Dua Kemenangan Jadi Awal Langkah yang Bagus, Suporter PSS Sleman Senang dengan Performa Tim

Terlebih, radio bukan sekadar alat elektronik. Ia pernah menjadi jendela dunia bagi masyarakat yang belum mengenal televisi dan internet. Kepala Museum BPK RI Kota Magelang Supriono menegaskan, pameran ini tidak hanya soal barang lama, tetapi juga tentang mengingat kembali peran radio dalam membentuk sejarah bangsa.

 

Menurutnya, dulu radio menjadi sumber utama informasi, apalagi di masa sebelum televisi. Dia sendiri masih mendengarkan radio. Biasanya di mobil. "Pada masa Orde Baru, radio juga pernah menjadi corong pemerintah, tapi sekaligus media hiburan. Ada sandiwara, ada musik. Bagi saya, pameran ini seperti nostalgia," tuturnya.

 Baca Juga: Dua Kemenangan Jadi Awal Langkah yang Bagus, Suporter PSS Sleman Senang dengan Performa Tim

Lewat pameran Gema Nusantara, pengunjung diajak untuk tidak sekadar melihat koleksi, tapi juga menyimak ulang peradaban suara. Di tengah derasnya arus teknologi digital, radio tetap berdenyut. Sebagai medium nostalgia, hiburan, dan sumber informasi yang sederhana, namun abadi. (aya)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Museum BPK RI Kota Magelang #radio #Pameran #kemerdekaan #hari radio nasional #penyiar #Komunitas Pecinta Audio Lawas #kompas #benda antik #Gema Nusantara