MAGELANG - Pemuda turut berperan dalam mengatasi krisis sampah di Kota Magelang. Sebab mereka dinilai memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi. Terlebih, ada sekitar 100 ton sampah setiap hari yang dihasilkan Kota Magelang dan sebagian besar berakhir di TPA Banyuurip yang kapasitasnya semakin terbatas.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menjelaskan, pengelolaan sampah tak lagi bisa dipandang sebagai urusan teknis semata, melainkan soal keberlanjutan hidup. Jika pola lama, yakni kumpul-angkut-buang terus dibiarkan, ancaman krisis sampah hanya tinggal menunggu waktu.
"Kalau pola ini kita biarkan, yang kita wariskan bukan kota yang nyaman, melainkan beban untuk generasi setelah kita," ujarnya saat membuka pelatihan pemuda sekolah sampah di Balai RW 2 Wates Rabu (17/9).