Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebih Dekat dengan Teguh Kuatno, Pejuang Disabilitas dari Kebumen; Mengaku Modal Semangat, Yakin Tuhan Kasih Jalan

Adib Lazwar Irkhami • Rabu, 17 September 2025 | 01:32 WIB
INGIN HAK SAMA: Teguh Kuatno dan semarak peringatan HUT Ke-80 Indonesia oleh penyandang disabilitas di rumahnya, Pejagoan, Kebumen.
INGIN HAK SAMA: Teguh Kuatno dan semarak peringatan HUT Ke-80 Indonesia oleh penyandang disabilitas di rumahnya, Pejagoan, Kebumen.

KEBUMEN - Keterbatasan fisik tak membuat Teguh Kuatno, 43, patah arang. Dia justru terus membangun semangat antarsesama disabilitas agar tetap bangkit dari keterpurukan. Kaki kirinya yang diamputasi akibat kecelakaan, bukan penghalang dirinya terus menebar kabaikan.

Bagi sebagian penyandang disabilitas di Kebumen, mungkin sudah tak asing dengan sosok Teguh Kuatno. Dia adalah aktivis yang selalu konsisten menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas. Belum lama Teguh lewat komunitas yang dibentuk bahkan berhasil meraih penghargaan Prakarsa Inklusi dari Komisi Nasional Disabilitas (KND).

Memiliki kesamaan nasib membuat Teguh total dalam gerakan advokasi peningkatan derajat penyandang disabilitas. Dia begitu lantang bersuara soal penghormatan dan pelindungan disabilitas.

"Modal saya cuma semangat. Tuhan pasti kasih jalan," ungkap Teguh kepada Radar Jogja, Kamis (11/9).

Teguh bercerita, betapa susahnya menjalani hidup di tengah keterbatasan fisik. Selain harus membangun semangat dari dalam diri, peran atau dukungan orang terdekat juga sangat dibutuhkan. Dia pun ingin hadir untuk menjawab setiap keresahan yang dirasakan penyandang disabilitas.

Dia ingin difabel tak memiliki rasa minder hidup di tengah masyarakat. Baginya, penyandang disabilitas memiliki hak sama untuk hidup tumbuh dan berkembang layaknya manusia normal. Tidak ada alasan mereka untuk dicampakkan. "Tolong dipahami, disabilitas juga punya hak. Kami tidak ingin dianaktirikan," ucapnya.

Setidaknya lewat pendekatan ini diharapkan tak membuat difabel menyalahkan keadaan. Sudah hampir lima tahun ia berupaya melakukan pendampingan serta fasilitasi ketersediaan alat bantu bagi disabilitas. "Semampu saya. Ketika itu bisa dibantu, pasti saya bantu," jelasnya.

Saling melengkapi, itulah prinsip Teguh dalam mengurai setiap kesusahan yang dirasakan disabilitas. Rumahnya di Desa Pejagoan, Kecamatan Pejagoan, bahkan terbuka 24 jam bagi penyandang disabilitas.

Dia ingin hidupnya membawa makna bagi masyarakat yang termarginalkan karena keterbatasan fisik. "Saya yakin semua orang tidak ada yang mau kaki atau tangan diamputasi. Tapi itu hidup yang harus mereka jalani," tandasnya. (fid/laz)

Editor : Herpri Kartun
#komunitas #Disabilitas #Difabel #keterbatasan fisik #aktivis