RADAR JOGJA- Ratusan siswa dan guru di Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, menyebutkan data terbaru menunjukkan jumlah korban terus bertambah hingga mencapai 251 orang.
Korban terdiri dari siswa, guru, serta orang tua murid yang ikut menyantap hidangan tersebut. Kasus ini terjadi pada Senin, 11 Agustus 2025.
Peristiwa keracunan ini bermula dari distribusi menu MBG yang disiapkan oleh Dapur SPPG Mitra Mandiri Gemolong-1.
Makanan tersebut dikonsumsi oleh siswa dan guru di sekolah, serta dibawa pulang untuk dimakan anggota keluarga.
Tak lama setelah mengonsumsi hidangan itu, sejumlah orang mengalami keluhan kesehatan seperti mual, pusing, hingga diare.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen memutuskan untuk menghentikan sementara distribusi makanan MBG dari penyedia terkait.
“Distribusi MBG sekolah yang ditemukan kasus keracunan dihentikan sementara,” kata Sigit, Bupati Sragen, Rabu (13/8/2025).
Bupati Sigit menjelaskan, penghentian ini dilakukan sambil menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para korban.
“Untuk pendistribusian MBG yang berasal dari penyedia yang dimungkinkan mengakibatkan keracunan ini jeda setidaknya dua hari,” ujarnya. Kebijakan ini diambil untuk mencegah kemungkinan bertambahnya korban.
Hingga kini, pemerintah daerah masih melakukan pendataan jumlah korban dan memastikan penanganan medis bagi mereka yang terdampak.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan bahwa peristiwa keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sragen masih dalam tahap pemeriksaan dan evaluasi bersama.
Sampel makanan dari dapur umum lokasi MBG tersebut saat ini tengah diperiksa di laboratorium milik Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk memastikan penyebab pastinya.
Satgas MBG Jawa Tengah bersama Dinas Kesehatan terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menangani kasus ini secara menyeluruh.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan keamanan pangan dan mencegah terulangnya insiden serupa di kemudian hari.
Dengan proses pemeriksaan yang masih berlangsung, pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada, serta segera melaporkan apabila mengalami gejala serupa.
Hasil uji laboratorium diharapkan dapat segera keluar agar langkah penanganan dan pencegahan dapat dilakukan secara tepat dan cepat.
Penulis Adella Haviza
Editor : Bahana.