KEBUMEN - Perum Bulog Cabang Kebumen masih melakukan upaya optimalisasi penyerapan gabah kering panen (GKP) dari petani. Tercatat hingga akhir Juli 2025 penyerapan gabah petani telah mencapai 16 ribu ton.
Kepala Gudang Bulog Kebumen Sidik Sugiharto mengatakan, capaian serapan GKP tak lepas dari pola kerjasama yang terbangun dengan mitra serta kelompok tani. Selain gabah, Bulog juga menyerap hasil pertanian dalam bentuk beras mencapai 4.800 ton.
"Praktis kami mulai Februari. Paling ramai serapan pas ramadan bertepatan panen raya," katanya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (1/8).
Sidik menyatakan, gabah yang diserap Bulog berasal dari berbagai wilayah sentra produksi padi di Kebumen. Dari hasil serapan tersebut kemudian akan diolah menjadi beras sebagai stok cadangan pangan pemerintah.
Ketersediaan beras ini nantinya dapat digunakan untuk kebutuhan program bantuan pangan, operasi pasar hingga penanganan keadaan darurat. "Ada tambahan tiga gudang penyimpanan. Kalau bicara serapan, di Kedu kami paling banyak," terangnya.
Dia menjelaskan, program penyerapan GKP langsung dari petani merupakan langkah konkret pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan. Program ini juga bertujuan menstabilkan harga gabah di tingkat petani. Hal ini juga untuk menjamin hasil panen petani dapat terserap dengan baik, tanpa ada unsur monopoli harga.
Ditegaskan, Bulog akan terus melanjutkan penyerapan GKP dari petani sesuai target nasional. Termasuk memastikan harga beli di tingkat petani sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. "Harga pengadaan gabah Rp 6.500 per kilogram. Sampai sekarang tetap jalan. Jadi kami jemput bola langsung ke petani," katanya.
Direktur PT Aneka Usaha Kebumen Jaya Wahyu Sugiantoro menyatakan, sebagai perusahaan daerah pihaknya akan terus menjalin kerjasama dengan Bulog, utamanya terkait pengadaan beras untuk masyarakat.
Selama ini berbagai program kolaboratif juga telah terlaksana, salah satunya melalui gerakan pasar murah yang tersebar di berbagai kecamatan. "Dalam waktu dekat ada pasar murah lagi. Baru kami rapatkan," kata Wahyu. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo