MUNGKID — SMK Pangudi Luhur Muntilan punya cara supaya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya lebih tepat. Hal itu juga sebagai evaluasi dugaan temuan belatung dalam menu lele goreng pada Kamis (24/7).
Hal itu menjadi pengingat pentingnya membentuk pola penanganan dan koordinasi yang baik di antara berbagai pihak. Termasuk pengawasan yang masih perlu diperkuat.
Kepala sekolah SMK Pangudi Luhur Muntilan Totok Tri Nugroho tidak menampik, kejadian tersebut menjadi momentum untuk evaluasi menyeluruh di internal sekolah. Dia menilai, perlu ada pembenahan menyeluruh, termasuk akurasi data penerima manfaat.
"Salah satu langkah yang akan kami ambil bulan depan adalah pendataan ulang siswa yang benar-benar membutuhkan program ini melalui formulir daring," ujar Totok, Rabu (30/7).
Langkah ini, menurutnya, bertujuan agar tidak ada makanan yang mubazir dan distribusinya tepat sasaran. Sebab, meskipun menu MBG disediakan secara gratis, esensi utamanya adalah membantu siswa yang rentan secara ekonomi agar bisa tetap fokus belajar tanpa kelaparan.
Baca Juga: Produksi Susu di Koperasi Samesta Masih Kurang, Pengurus Rencana Impor dengan Modal Kredit
Totok pun menyatakan dukungannya terhadap program MBG sebagai kebijakan negara yang patut diapresiasi. "Jangan sampai tujuan mulia program ini justru terganggu karena kurangnya pengawasan atau miskomunikasi di lapangan," sambungnya
Sementara itu, Kapolsek Muntilan AKP Abdul Muthohir menegaskan, ke depan harus ada kesepahaman bersama agar setiap persoalan di lapangan tidak langsung melebar ke ruang publik tanpa penyelesaian yang terstruktur. Salah satu kesepakatannya adalah membentuk pola penanganan yang baik.
Dia menyebut, ketika ada permasalahan, ada jalur komunikasi yang jelas. "Jangan langsung viral, karena itu bisa berdampak tidak baik bagi program dan semua pihak," katanya di Mapolsek Muntilan, Rabu (30/7).
Menurut Muthohir, koordinasi yang intens antara sekolah, penyedia makanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yayasan, dan unsur forkopimcam menjadi kunci untuk memastikan program MBG tetap berjalan sesuai tujuan. Dia juga menegaskan, pihak kepolisian siap memediasi dan mendampingi apabila terjadi dinamika di lapangan.
"Kami sudah ke sekolah untuk memastikan langsung, mendampingi, dan mengecek menu makanannya bersama-sama. Bahkan dilakukan uji coba makan bersama di dua kelas, dan hasilnya disambut suka cita oleh siswa," jelasnya.
Dia berharap, kasus ini menjadi pembelajaran bagi semua pengelola program MBG di wilayah lain agar ke depan lebih waspada, terorganisir, dan solid dalam menyikapi berbagai dinamika yang mungkin muncul.
Editor : Heru Pratomo