MAGELANG — Operasi Patuh Candi 2025 yang berlangsung selama dua pekan, 14- 27 Juli, menjadi momentum evaluasi besar-besaran terhadap budaya tertib lalu lintas di wilayah Magelang Raya. Polresta Magelang dan Polres Magelang Kota mencatat ribuan pelanggaran, mulai dari pelanggaran ringan hingga kasus kecelakaan lalu lintas.
Kasat Lantas Polresta Magelang Kompol Nyi Ayu Fitria Facha menuturkan, sebanyak 2.428 pelanggaran lalu lintas ditindak selama operasi. Dari jumlah tersebut, 1.758 pelanggar tertangkap kamera sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), sementara 670 lainnya ditindak melalui tilang manual.
Tak hanya itu, sebanyak 1.130 pengendara diberikan teguran karena melakukan pelanggaran ringan. "Tujuan utama operasi ini bukan hanya untuk menindak pelanggar, tetapi juga untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih disiplin dan sadar akan keselamatan berkendara," ujarnya di Mapolresta Magelang, Selasa (29/7).
Selama masa operasi, Polresta Magelang mencatat sembilan kejadian kecelakaan lalu lintas, dengan total kerugian materiil mencapai Rp 5,2 juta. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, angka tersebut menjadi pengingat bahwa risiko di jalan raya bukan sekadar statistik, tetapi nyata.
Sementara itu, di wilayah hukum Polres Magelang Kota, angka pelanggaran juga tak kalah mencengangkan. Sebanyak 1.400 pelanggaran dicatat selama operasi berlangsung. Dari jumlah itu, 770 pengendara ditilang dan 630 lainnya hanya diberikan teguran.
Terpisah, Kasat Lantas Polres Magelang Kota AKP Krida Risanto mengatakan, mayoritas pelanggaran dilakukan oleh pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm dan tidak memiliki surat-surat kendaraan seperti SIM. Menurutnya, pelanggaran itu mencerminkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keselamatan dalam berkendara.
Bahkan, selama 14 hari operasi, lima kecelakaan lalu lintas terjadi di Kota Magelang, melibatkan 12 korban yang seluruhnya mengalami luka ringan. "Ini menunjukkan bahwa masih banyak pengendara yang abai terhadap keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lain," katanya.
Meski penindakan menjadi sorotan, dia menegaskan, pendekatan edukatif dan persuasif tetap diutamakan dalam pelaksanaan Operasi Patuh Candi. Sosialisasi dilakukan di sekolah-sekolah, tempat keramaian, hingga media sosial.
Dia berharap, setelah operasi ini selesai, kesadaran masyarakat tumbuh bukan karena takut ditilang, tetapi karena paham bahwa tertib berlalu lintas adalah bagian dari menjaga nyawa. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo