Bahkan, zuhdi dituntut uang Rp 25 juta oleh orang tua anak tersebut.
Persoalan yang menimpa Zuhdi sempat viral di medsos. Kejadian tersebut menarik perhatian sejumlah pihak.
Termasuk pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji, Miftah Maulana Habiburrahman yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Miftah.
Miftah pun memenuhi janji kepada guru ngaji Madrasah Diniyah tersebut.
Dia memberangkatkan Zuhdi umroh ke tanah suci bersama keluarganya.
Seperti dilansir dari JawaPos.com, Zuhdi berangkat umrah dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis pagi (24/7).
Miftah mengantar secara langsung keberangkatan guru ngaji madin yang sempat viral karena dituntut membayar ganti rugi Rp 25 juta oleh salah seorang wali muridnya di Demak itu.
”Saya mau menemui Pak Kyai Zuhdi yang kemarin di Demak,” kata Miftah singkat.
Miftah juga memberikan uang tunai Rp 25 juta sebagai pengganti uang yang dia keluarkan untuk membayar ganti rugi.
Menurut Miftah, guru ngaji merupakan profesi yang sangat mulia walau hanya mendapat upah sekedarnya.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin mengunjungi Zuhdi, di kediamannya Roudhotul Mutaalimin di Desa Jatirejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak pada Sabtu, 19 Juli 2025.
Kunjungan itu menyusul mencuatnya sebuah insiden penamparan murid di kelas yang membuat Zuhdi terjerat beban denda hingga Rp25 juta.
Dalam kunjungan itu, Taj Yasin mendengarkan dan berdialog dengan Zuhdi, supaya mengetahui duduk perkara persoalan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Zuhdi menjelaskan, kejadian itu terjadi pada April 2025.
Saat itu, sandal yang dilempar murid dari kelas lain mengenai peci Zuhdi yang tengah mengajar. Karena emosi, ia menampar murid yang ditunjuk teman-temannya sebagai pelaku.
Namun, tiga bulan setelah kejadian, Zuhdi didatangi lima pria yang mengaku dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Lima orang meminta uang damai hingga Rp25 juta dengan dalih telah ada laporan ke pihak kepolisian.
“Alhamdulillah ini sudah bertemu Gus Yasin. Beliau menyampaikan akan mendampingi dan beri perlindungan,” ucap Zuhdi.
Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut.
Ia menegaskan pentingnya adab dalam dunia pendidikan, serta mendorong penyelesaian persoalan secara kekeluargaan dan edukatif.
“Kita koordinasikan langsung dengan Kementerian Agama, Jadi kita lebih kearah edukasi dan perlindungan,” kata dia.
Sosok yang akrab disapa Taj Yasin ini menyatakan, guru memang bukan sosok yang sempurna, namun menegur untuk membimbing adalah bagian dari tanggung jawab mereka.
“Kalau permasalahan kecil dibesarkan, akhirnya anak yang jadi korban. Kasus ini bahkan sempat viral. Anak jadi takut sekolah, guru tertekan, dan nama lembaga pendidikan ikut tercoreng,” ujarnya.
Editor : Bahana.