MAGELANG - Pemerintah tengah gencar menekan angka prevalensi stunting. Upaya itu dilakukan dengan gerakan nyata dari rumah ke rumah. Tidak hanya melibatkan pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga masyarakat. Satu di antaranya melalui program gerakan orang tua asuh cegah stunting (Genting).
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menyebut, Genting merupakan sebuah pendekatan yang mengedepankan keterlibatan langsung dan kepedulian sosial. Dia menegaskan pentingnya asupan gizi sebagai kunci utama dalam 1.000 hari pertama kehidupan.
Dia juga menyoroti kondisi seorang anak yang secara fisik terlihat kurang ideal. Dari catatan kesehatan pun menunjukan ketidakseimbangan berat dan tinggi badan. “Kalau sudah lewat dua tahun, kemungkinan untuk disembuhkan hanya 20 persen,” ujar Wihaji saat tinjauan di Kota Magelang Rabu (23/7).
Tidak hanya menilai dari kejauhan, Wihaji turun langsung untuk melihat catatan kesehatan anak dan kondisi fisik di lapangan. Dia ingin memastikan, intervensi tidak berhenti di atas kertas. Untuk itu, program Genting dijalankan untuk menjembatani perhatian masyarakat dan negara terhadap anak-anak dengan potensi stunting.
Baca Juga: Satpol PP Panggil Tiga Jukir Nakal, Dishub Sebut Pelaku Tidak Berizin
Di Kota Magelang, dia melihat, tindak lanjut program itu diwujudkan dengan pemberian makanan tambahan (PMT). “Di Magelang sudah berjalan baik selama dua bulan ke depan. Sekarang tinggal pengawasan dan pendampingan dari tim pendamping keluarga (TPK),” katanya.
Wihaji menekankan, langkah turun langsung ke rumah warga adalah cara untuk memahami dan mengurai persoalan secara konkret. “Saya ingin tahu masalahnya apa, lalu kita urai satu per satu. Tidak cukup hanya dengan data, kita harus hadir,” sambungnya.
Pendekatan ini, kata dia, menjadi sinyal bahwa perang melawan stunting bukanlah tugas teknokratis semata. Melainkan gerakan sosial yang menuntut empati, kehadiran, dan intervensi yang terukur.
Gerakan Genting yang digaungkan BKKBN bukan hanya tentang distribusi gizi tambahan. Tetapi juga tentang membangun rasa memiliki terhadap masa depan generasi bangsa.
Langkah ini, lanjut Wihaji, juga sejalan dengan penurunan prevalensi stunting nasional. Dari 21,5 persen pada 2023, angka tersebut telah turun menjadi 19,8 persen pada 2024. Target pemerintah dalam RPJMN adalah mencapai 18 persen tahun ini. Lalu turun menjadi 14 persen pada tahun-tahun berikutnya.
Di balik angka statistik dan program nasional, terdapat kisah-kisah personal yang menggerakkan perubahan. Seperti yang dialami Dimas Satriyo Putro, warga Perumahan Depkes, Kramat Utara. Dia bercerita, sang anak Devano Razka Saputro sempat mengalami kondisi gizi kurang dan kini berusia hampir dua tahun.
Baca Juga: Berkat Program PNM Mekaar, Supraptiningsih Punya Persewaan Baju Adat Terbesar di Imogiri, Bantul
Devano pernah dirawat di inkubator selama hampir dua minggu karena sesak napas sejak lahir. Meski berat badannya saat lahir tergolong normal, namun tinggi badannya tidak ideal dan perkembangan fisiknya menjadi perhatian.
Namun sejak mendapatkan PMT dari Pemkot Magelang selama dua bulan terakhir, kondisi Devano mulai membaik. “Berat badan anak saya naik dari 7,9 kilogram (kg) menjadi 9,25 kg. Tambahan makanannya berupa snack setiap siang dan ini sangat membantu,” ujar Dimas. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita