MUNGKID — Pemkab Magelang resmi memulai uji coba program Angkutan Pelajar Aman (APA). Program ini tak hanya bertujuan menekan angka anak tidak sekolah (ATS), tetapi juga menghidupkan ekonomi transportasi pedesaan yang selama ini lesu akibat minimnya penumpang.
Program tersebut merupakan sebuah inisiatif penyediaan transportasi gratis khusus pelajar yang menyasar daerah-daerah dengan tingkat kerentanan pendidikan tinggi. Sebab beberapa wilayah di pedesaan masih keterbatasan transportasi, termasuk angkot.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, layanan transportasi gratis ini menjadi jawaban konkret untuk mengatasi salah satu hambatan terbesar akses pendidikan di wilayah pedesaan. Yakni keterbatasan transportasi.
Baca Juga: Kerja Sama Sekolah Rakyat Menengah Atas 43 Magelang dengan SPPG Tunggu Keputusan Pemerintah Pusat
Selama ini, kata dia, masih banyak anak di desa-desa terpencil yang putus sekolah hanya karena tidak ada kendaraan umum yang bisa mengantar mereka ke sekolah. "Program ini adalah ikhtiar kami untuk memutus rantai kesenjangan itu," katanya di kompleks Setda Kabupaten Magelang, Selasa (15/7).
Uji coba angkot gratis dimulai Senin (14/7) atau bersamaan dengan hari pertama masuk sekolah. Uji cobanya akan berlangsung selama 35 hari efektif sekolah hingga akhir Agustus 2025.
Pada tahap awal, program APA akan menyasar tiga jalur prioritas yang dipilih berdasarkan tiga indikator utama. Antara lain tingginya angka anak tidak sekolah, kemiskinan ekstrem, dan ketersediaan angkutan pedesaan.
Baca Juga: Garap Sektor Pangan dan Perdagangan Umum, BUMD Aneka Usaha Kebumen Target Raup Laba Rp 850 Juta
Adapun jalur yang dilayani meliputi Muntilan – Mungkid – Sawangan, Tegalrejo – Sorobayan – Sidomulyo – Pakis, dan Kota Magelang – Bandongan – Kaliangkrik. Masing-masing trayek dilayani lima unit angkot yang difasilitasi oleh dinas perhubungan (dishub) melalui kerja sama dengan koperasi angkutan pedesaan.
Pemkab Magelang menyiapkan roadmap bertahap dalam pengembangan trayek. Setelah uji coba dievaluasi, jumlah trayek akan diperluas menjadi sembilan jalur pada September 2025, lalu bertahap hingga 29 trayek pada 2029.
Dia ingin memastikan program ini berjalan berkelanjutan, didukung data lapangan dan kebutuhan riil. "Target kami, ke depan tidak ada anak Kabupaten Magelang yang putus sekolah karena alasan transportasi," tegas Grengseng.
Selain memudahkan akses pendidikan, program APA juga diharapkan mampu memperbaiki kualitas angkutan desa yang kian tergerus perkembangan transportasi daring. Angkot yang selama ini terparkir lama di pangkalan kini berpeluang mendapatkan pendapatan tetap sekaligus berkontribusi bagi pendidikan daerah.
Sekretaris Dishub Kabupaten Magelang Mashadi mengutarakan, para sopir yang selama ini mengeluh kekurangan penumpang juga dilibatkan dengan skema sewa harian. "Jadi program ini tidak hanya menyasar aspek pendidikan, tapi juga menggerakkan ekonomi sektor transportasi lokal," paparnya.
Dia mengatakan, dishub menetapkan tarif sewa Rp 152.250 per unit per hari. Bisa dibayarkan mingguan setelah sopir melaporkan aktivitas mingguan mereka. Setiap hari sekolah, angkot tersebut melayani dia kali perjalanan. Antar pelajar mulai pukul 05.30-07.00 dan jemput pukul 13.00-14.30.
Di luar jam tersebut, kata Mashadi, sopir diperbolehkan melayani penumpang umum agar tetap produktif tanpa bergantung penuh pada subsidi pemerintah. Sehingga uji coba program ini menjadi percontohan model pelayanan publik yang tidak hanya menargetkan output pendidikan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi lokal berbasis potensi desa. (aya)
Editor : Heru Pratomo