Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cuaca Ekstrem, Produktivitas Tembakau di Kabupaten Magelang Justru Diprediksi Naik

Naila Nihayah • Selasa, 8 Juli 2025 | 12:05 WIB
SUBUR: Petani di Desa Banyuroto saat hendak memanen hasil tembakaunya.
SUBUR: Petani di Desa Banyuroto saat hendak memanen hasil tembakaunya.

MUNGKID - Meski dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi dan kelembaban udara yang tidak menentu, para petani tembakau di Kabupaten Magelang justru menunjukkan optimisme. Luas tanam tembakau di wilayah ini tercatat meningkat dan produktivitasnya pun diperkirakan akan melampaui tahun sebelumnya.

Bahkan, kondisi cuaca yang menyulitkan di daerah lain dinilai dapat menguntungkan petani Magelang dari sisi harga jual. Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Pangan (Distapangan) Kabupaten Magelang Widiarto Tri Saksono menyebut, hingga Mei 2025, luas tanaman tembakau telah mencapai 3.430 hektare. Naik dari sekitar 3.250 hektare pada musim tanam 2024.

Dia memprediksi, ada kenaikan luasan tanam meskipun sedang menghadapi cuaca ekstrem. "Bahkan potensi kenaikan masih terbuka, terutama dari kawasan sawah yang belum tanam," ujarnya di kantornya Senin (7/7).

Peningkatan ini, kata Widiarto, tak lepas dari kemampuan petani yang semakin cerdas dalam membaca musim tanam. Edukasi cuaca dari BMKG dinilai berperan besar dalam membentuk keputusan budi daya petani yang lebih adaptif.

Dia menuturkan, kondisi cuaca tahun ini memang tidak ideal bagi tanaman tembakau. Namun justru karena banyak daerah lain yang mengalami kegagalan tanam, Kabupaten Magelang melihat peluang untuk mendapat harga jual lebih tinggi.

Saat ini, lanjut dia, memang belum bisa ditentukan harga pastinya karena petani masih di fase tanam. "Tapi, bila produksi di daerah lain turun, maka tembakau Kabupaten Magelang bisa punya posisi tawar lebih tinggi di pasar," kata Widiarto.

Dukungan dari pemerintah daerah juga menjadi faktor pendorong. Distapangan telah memfasilitasi kerja sama antara petani dengan produsen rokok lokal di Kecamatan Ngluwar dan Salam. Mereka berkomitmen membeli seluruh hasil panen tembakau dari Kabupaten Magelang.

Selain itu, bantuan alat dan sarana produksi juga telah disalurkan. Seperti benih unggul, pupuk, rigen (alat penjemur), hingga oven pengering tembakau yang diberikan oleh Pemprov Jawa Tengah.

Dengan oven, Widiarto menyebut, petani tak perlu bergantung penuh pada matahari untuk mengeringkan tembakau. "Ini solusi praktis menghadapi ketidakpastian cuaca," jelas Widiarto.

Sebagai langkah antisipatif, Distapangan Kabupaten Magelang juga mendorong pola tumpangsari. Yakni mengombinasikan tanaman tembakau dengan hortikultura lain agar petani tidak terlalu bergantung pada satu jenis komoditas.

Berdasarkan data 2024, produktivitas tembakau rajangan di Kabupaten Magelang mencapai 7.015 kilogram (kg) per hektare. Petani di wilayah ini menanam berbagai varietas. Mulai dari gombel berdaun lebar hingga Madura, yang cocok ditanam di sawah karena masa tanamnya lebih pendek.

 Baca Juga: PSS Sleman Latihan Perdana, Dua Bekas Punggawa PSIM Menyeberang

Sementara harga jual tembakau kering tahun lalu berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu per kg. Menyesuaikan kualitas dan kelas daun. Untuk tembakau dari hasil penjarangan awal, seperti jenis rewukan, juga cukup menguntungkan.

Hal ini dialami langsung oleh petani asal Desa Banyuroto, Sawangan, Tuminah. Tahun lalu, harga rewukan bisa Rp 40 ribu per kg. "Tahun ini belum tahu, tapi harusnya bisa lebih tinggi karena lebih sedikit yang tanam akibat cuaca," paparnya.

Tuminah merupakan satu dari banyak petani yang tetap semangat menanam meski cuaca tak menentu. Dia menanam sekitar 2.000 batang tembakau di lahannya dan optimis hasilnya akan bagus.

"Alhamdulillah meski sering hujan, tanamannya segar, tidak rusak. Dua bulan lagi panen, mudah-mudahan hasilnya bagus dan harga tinggi," ungkapnya penuh harap. (aya/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Distapangan Kabupaten Magelang #Kabupaten Magelang #Tembakau Rajangan #Cuaca Ekstrem #panen tembakau #tembakau #Kelembaban Udara #petani tembakau #tantangan #rokok lokal #Kecamatan Ngluwar #Curah Hujan Tinggi #pemerintah daerah #Petani #produsen #Pemprov Jawa Tengah #komoditas