MUNGKID - Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah yang mengikuti Pujayatra. Perhelatan itu menjadi puncak dari rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2569/2025. Mereka menyusuri jalur suci dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, dalam keheningan dan kekhusyukan.
Prosesi ini dimulai pukul 13.30. Barisan pertama ialah lambang Garuda. Disusul dengan kereta kencana dan bendera Merah Putih serta bendera sangha. Bukan sekadar prosesi ritual, Pujayatra tahun ini memancarkan getar spiritual yang kuat.
Terutama dengan hadirnya empat kereta kencana yang megah namun penuh makna, dirancang khusus oleh Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera.
Baca Juga: Event Tahunan, Festival Layangan di Pantai Ketawang Purworejo Dilirik Turis Swedia dan Singapura
Ketua Panitia Umum ITC dan Asalha Mahapuja 2569/2025 Bhikkhu Gutadhammo Mahathera menyebut, prosesi ini menjadi bentuk bakti, penghormatan, sekaligus perenungan mendalam bagi umat Buddha.
"Kami berjalan penuh perhatian, dengan kesadaran penuh pada setiap langkah, demi memurnikan pikiran dan menguatkan tekad untuk hidup dalam kebajikan," katanya, Minggu (6/7).
Dalam prosesi ini, Sangha Theravada Indonesia menghadirkan nuansa baru yang memikat. Empat kereta kencana berwarna emas turut mengiringi langkah ribuan umat.
Kereta yang menjadi pusat perhatian dalam kirab ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol filosofis yang merangkum ajaran Buddha dan nilai-nilai luhur spiritualitas lintas zaman.
Baca Juga: Mas-Mas Pelayaran Kini Jadi Tersangka dan Ditahan, Polisi Juga Tetapkan Dua Orang dalam Kasus Perusakan
Dia mengutarakan, prosesi Pujayatra dilengkapi dengan barisan bendera Merah Putih, bendera Buddhis, Bhinneka Tunggal Ika, kesenian rakyat, dan barisan Amisa Puja atau persembahan dari umat. Semua bergerak dalam irama batin yang tenang, penuh kesadaran, dan perenungan.
Langkah demi langkah itu, lanjut dia, bukan untuk memamerkan ritual. Tapi untuk menyelami makna. Dengan berjalan penuh perhatian, umat diajak merenungkan Buddha, Dhamma, dan Sangha.
"Ini latihan batin agar muncul kejernihan pikiran dan semangat untuk terus berbuat baik," ujar Bhikkhu Gutadhammo.
Baca Juga: Persib Bandung versus PSIM Jogja Batal Jadi Laga Pembuka, Jadwal Liga 1 Kemungkinan Mundur Satu Pekan
Menurutnya, Pujayatra menjadi latihan spiritual untuk menyaring batin dari sifat buruk seperti kebencian, keserakahan, dan iri hati. Setiap umat yang melangkah diajak melihat ke dalam dirinya sendiri, melakukan introspeksi, dan mengembangkan kebijaksanaan.
"Kesucian itu dimunculkan dari dalam. Dan kebijaksanaan adalah pisau tajam untuk memotong kotoran batin. Itulah nilai luhur yang ingin kita tanamkan dalam prosesi ini," sambungnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo