MUNGKID – Ribuan umat Buddha berhimpun untuk memperingati momen penting dalam sejarah spiritual umat manusia, yakni Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2569/2025. Perayaan itu menggema bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tapi sebagai refleksi batin mendalam tentang kehalusan, kebijaksanaan, dan harmoni hidup.
Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar mengungkapkan, Asalha Mahapuja ialah mengenang khutbah pertama Sidharta Gautama di hadapan lima muridnya. Sebuah momen historis yang menandai penyampaian ajaran inti Buddha kepada dunia.
Baca Juga: Event Tahunan, Festival Layangan di Pantai Ketawang Purworejo Dilirik Turis Swedia dan Singapura
"Khutbah itu mengajak manusia untuk mengedepankan kehalusan, bukan kekasaran. Dan itulah substansi dari ajaran Buddha yang sangat luhur," ujar Nasaruddin usai puja bakti agung di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur, Minggu (6/7).
Dia menggambarkan, ajaran-ajaran Buddha sejatinya bersifat feminin. Bukan dalam arti gender, tapi dalam semangat merawat, membina, dan mengasuh kehidupan. Menurutnya, hal itu merupakan sebuah sifat spiritual yang justru sering tertutupi oleh praktik keberagamaan yang terlalu maskulin: keras, menaklukkan, dan dominan.
Baca Juga: Terima Aduan Layanan Darurat 110, Polsek Borobudur Gerebek Sekelompok Pemuda Bersenjata Tajam
"Tuhan dalam banyak perspektif agama lebih menonjol sifat feminin-Nya: sebagai pemelihara alam. Tapi mengapa umatnya justru maskulin? Ini menandakan jarak antara ajaran dengan pemeluknya, dan itu adalah persoalan besar dalam keberagamaan kita hari ini," katanya.
Dia juga menyoroti bagaimana ajaran-ajaran Buddha, terutama dalam tradisi Theravada, sebenarnya sangat dekat dengan prinsip universal dan nilai-nilai Pancasila. Terutama kemanusiaan, ketuhanan dan cinta kasih semesta. Dalam ajaran itu, kata dia, cinta tidak hanya tertuju kepada sesama manusia, tetapi juga pada pohon, binatang, dan alam semesta.
"Kalau kita ingin menciptakan keharmonisan hidup, kita harus mencintai semuanya. Kesatuan asih itu perlu diterapkan dalam hidup sehari-hari," tegasnya.
Nasaruddin pun mengaitkan ajaran Theravada dengan prinsip wasathiyah dalam Islam, yakni jalan tengah. Menurutnya, ajaran Theravada tidak hanya mengajak umat untuk fokus menyelesaikan persoalan dengan pikiran, tapi juga mengajak untuk menyelam lebih dalam ke ruang batin dan perasaan.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengutarakan, ITC dan Asalha Mahapuja bukan sekadar ritual keagamaan. Melainkan momentum penting dalam menjaga harmoni antarmanusia dan antara manusia dengan alam.
Menurut dia, ajaran Sang Buddha membawa umatnya pada kedamaian dan kesejahteraan. "Kegiatan ini bukan hanya ibadah, tapi juga menambah kekuatan untuk melestarikan Candi Borobudur sebagai warisan sejarah dan spiritual dunia," ujar Taj Yasin.
Baca Juga: Tampil Spesial di Prambanan Jazz, Pamungkas Bawakan String and Brass Section
Dia berharap, pelaksanaan ritual keagamaan semacam ini mampu menarik turis mancanegara untuk tidak hanya melihat keindahan fisik Borobudur. Tapi juga menyerap nilai-nilai kearifan spiritual yang mengiringinya.
"Saya yakin, keberlanjutan kegiatan keagamaan seperti ini akan menambah kerukunan, kekokohan bangsa, dan kedamaian masyarakat. Dari Borobudur, kita menyuarakan cinta kasih dan kebijaksanaan ke seluruh penjuru dunia," katanya. (aya)
Editor : Heru Pratomo