KEBUMEN - Warga Jogosimo, Kecamatan Klirong berhasil menyelamatkan sedikitnya 600 telur penyu dari ancanan predator. Ratusan telur penyu jenis Lekang ini didapat dari hasil patroli warga di sepanjang tepi pantai setempat.
Pengurus Kelompok Pelestari Alam (KPA) Kaliratu, Desa Jogosimo Syarif Hidayat mengatakan, Juni hingga Agustus biasanya menjadi puncak musim penyu bertelur.
Selama periode itu warga akan intens berpatroli untuk mengevakuasi telur penyu yang berada di pasir pantai. "Musim penyu bertelur itu enam bulan. Tapi paling banyak bulan-bulan ini," ungkap Syarif, Jumat (4/7).
Kepada Radar Jogja, Syarif mengungkapkan bahwa predator seperti biawak, ular serta burung pemangsa menjadi ancaman nyata terhadap keberadaan telur penyu.
Oleh karena itu warga berinisiatif patroli rutin demi pelestarian penyu sebagai hewan dilindungi. "Kalau telur dijual, warga sini saya pikir tidak, ya. Sudah paham aturan. Paling lawannya hewan liar," ungkapnya.
Biasanya, kata Syarif, patroli telur penyu dilakukan dini hari hingga selepas salat subuh. Di mana rentang tersebut sebagai waktu yang tepat penyu-penyu mendarat ke tepi pantai untuk bertelur.
Setelah berhasil terkumpul telur tersebut lalu dibawa ke lokasi penangkaran khusus untuk ditetaskan. "Paling banyak di 2018. Bisa lebih 2.000 telur yang kami kumpulkan," sebutnya.
Selama 40 hari, perkembangan telur akan dipantau secara berkala. Adapun tingkat keberhasilan penetasan telur penyu tidak 100 persen, melainkan hanya 70 persen. Setelah menetas, tukik atau anakan penyu siap untuk dilepas liar.
"Seminggu setelah netas, kami lepas. Tidak ada yang disimpan, apalagi dijual," jelas Syarif.
Dalam setahun KPA Kaliratu dapat melepas liar sedikitnya 1.000 ekor tukik. Syarif yakin, kampung halamannya akan tetap menjadi tempat favorit pendaratan penyu, selagi alam dan iklim sekitar dapat terjaga.
"Uniknya penyu itu akan ingat di mana pertama kali ke alam. Walau sudah puluhan tahun di laut, akan kembali ke sini untuk bertelur," pungkas Syarif. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo