MAGELANG – Walikota Magelang Damar Prasetyono memilih jalan kepemimpinan yang tak biasa. Dia menyimpan sapu lidi dan ekrak di bagasi mobil dinasnya. Bukan sekadar simbol, sapu itu digunakan langsung olehnya setiap kali menemukan sampah berserakan saat berkeliling kota.
Bagi Damar, memimpin bukan hanya soal memberi perintah, tapi juga memberi contoh nyata. Dia meyakini, perubahan sebuah kota tidak akan pernah berhasil jika hanya bergantung pada pemerintah.
"Kalau semua diambil alih pemerintah tanpa ada kesadaran dari masyarakat, bagaimana dengan kebersihan, kesehatan, keindahan, dan kerapian? Ini semua untuk masyarakat itu sendiri," ujarnya di Gedung Wanita, Kamis (3/7/2025).
Damar menjadikan kebersihan sebagai isu utama dalam kepemimpinannya. Dia menyebut, rumah tangga yang bersih adalah fondasi dari lingkungan kota yang sehat. Bahkan saat blusukan, dia tak ragu masuk ke permukiman warga, memeriksa apakah rumah-rumah terjaga kebersihannya.
"Saya pastikan lantainya disapu. Karena kebersihan dan kerapian harus menjadi budaya kita. Ini bukan sekadar tugas petugas kebersihan, tapi kesadaran bersama," tegasnya.
Ditanya soal keberadaan sapu lidi di mobil dinasnya, Damar menjawab, itu adalah bentuk komitmennya. Bagi dia, kepemimpinan tidak boleh terjebak di ruang rapat dan meja kerja. Seorang pemimpin, katanya, harus mampu menyatukan pikiran, hati, dan tindakan.
"Dalam kepemimpinan, prinsip saya adalah together we can. Kalau pemerintah yang mengerjakan semua, bisa capek sendiri. Tapi kalau bersama, kita bisa melakukan perubahan yang lebih besar," katanya.
Dia mencontohkan, saat menemukan sampah di trotoar atau fasilitas umum yang rusak, dia tidak serta-merta menunggu laporan resmi. Jika perlu, dia turun tangan sendiri. Damar menyapu, mencatat, dan memanggil dinas terkait.
Damar menyadari, sebagai kepala daerah, ia memiliki perangkat dinas yang bertugas khusus. DLH untuk kebersihan, DPUPR untuk infrastruktur, Disdukcapil untuk layanan administrasi, dan sebagainya. Bagi dia, seorang wali kota bukan hanya manajer birokrasi, tapi juga konduktor orkestra yang memastikan semua unsur bekerja harmonis.
"Kita ini mengorkestrasi. Tapi kalau hanya duduk di kantor dan tidak tahu apa yang terjadi di lapangan, maka kita akan kehilangan substansi kepemimpinan," ucapnya.
Langkah Damar menyapu sendiri bukanlah gimmick. Ini adalah bagian dari strategi membangun kesadaran kolektif. Dia menyadari, satu sapu di tangan wali kota tak bisa membersihkan seluruh kota. Tapi menjadi contoh dari pemimpin yang bisa menyentuh hati banyak orang untuk melakukan hal yang sama.
Kota Magelang, di tangannya, bukan sekadar kota yang dikelola, tetapi rumah bersama yang harus dijaga. "Marilah kita jaga Kota Magelang bareng-bareng. Kota ini perlu kebersamaan," ajaknya. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin