MUNGKID – Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, bersiap membuka cabang di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Tak sekadar memperluas jangkauan dakwah, langkah ini juga bertujuan mencetak sumber daya manusia (SDM) lokal yang siap bersaing di sektor industri dan pariwisata.
Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori menyebut, rencana tersebut bukan sekadar perluasan lembaga. Melainkan bagian dari visi besar membangun manusia Nusantara.
"Bulan lalu, saya diundang Pak Basuki, Kepala Otorita IKN untuk bersilaturahmi bersama pimpinan sejumlah lembaga pendidikan," ujar Gus Yusuf, sapaan akrabnya di Ponpes API Tegalrejo, Senin (23/6).
Baca Juga: Gandeng Kapolresta Sleman, Harda Kiswaya Akan Kembali Terbang ke Konawe Selatan Awal Juli Mendatang
Pertemuan itu, kata dia, untuk menjajaki kolaborasi dengan sejumlah lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Tawaran itu datang dengan paket lengkap. Gedung perkantoran bisa digunakan sebagai ruang belajar, sementara asrama ASN disulap jadi tempat tinggal santri.
"Jangka waktunya satu hingga dua tahun, sambil kami bangun yang permanen," lontarnya.
API Tegalrejo tak sekadar memindahkan format pesantren. Gus Yusuf tengah merancang untuk membuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang fokus pada kebutuhan spesifik IKN dan berbasis kebutuhan industri lokal.
Dia menyebut, nantinya ada dua jurusan yang disediakan. Yakni konstruksi dan perawatan alat berat serta hospitality perhotelan. Dua bidang tersebut dianggap vital dalam fase awal pembangunan dan pariwisata Nusantara.
Sebab menurutnya, selama 10 hingga 20 tahun ke depan, IKN masih akan terus melakukan pembangunan. Itu berarti membutuhkan banyak tenaga di bidang konstruksi. Selain itu, karena IKN juga akan menjadi destinasi wisata, kebutuhan tenaga kerja perhotelan juga besar.
Baca Juga: Program Speling Sudah Sasar 17.900 Jiwa, Cek Kesehatan Gratis Sudah Capai 3,8 juta Jiwa
Model pendidikan yang ditawarkan adalah perpaduan antara kejuruan dan pembinaan karakter berbasis serta keagamaan khas pesantren. Gus Yusuf menyebutnya pendidikan ganda. Yakni pembelajaran hard skill lewat SMK, soft skill, dan moral lewat pesantren.
Target utamanya bukan siswa dari Jawa atau kota-kota besar, melainkan anak-anak lokal Kalimantan. Upaya itu sebagai bentuk pemberdayaan langsung masyarakat sekitar.
"Kita latih keterampilan melalui SMK dan karakter melalui pesantren aupaya mereka bisa terserap di industri dan punya akhlak baik," ucapnya.
Rencananya, lanjut dia, pada tahun ajaran 2026/2027, cabang pesantren ini mulai menerima santri. Daya tampung awalnya sekitar 200 orang. Sementara untuk tenaga pengajar akan didatangkan dari Tegalrejo dan diperkuat oleh para alumni yang sudah berdomisili di Kalimantan.
Kurikulumnya pun akan disamakan dengan yang diajarkan di Tegalrejo. Termasuk materi tauhid, fikih, hadis, dan lainnya. Nama lembaganya juga sama, yakni Syubbanul Wathon. Saat ini, Gus Yusuf masih menunggu finalisasi draf nota kesepahaman (MoU) dari pihak Otorita IKN.
"Insyaallah bulan depan kita teken MoU dan mulai bergerak. Tahun ajaran 2026/2027 rencananya sudah bisa menerima santri baru," paparnya.
Gus Yusuf menambahkan, rencananya tiga tahun pertama akan difokuskan untuk rekrutmen lokal. Setelah itu, gerbang akan dibuka lebih lebar untuk santri dari seluruh Indonesia. (aya)
Editor : Sevtia Eka Novarita