KEBUMEN - Warga Padukuhan Pandoman, Desa Karangrejo, Kecamatan Petanahan dibuat resah dengan adanya aktivitas ternak ayam skala besar di sekitar permukiman. Hal ini karena keberadaan lalat dan bau yang ditimbulkan oleh limbah peternakan.
Warga setempat Wadiroh, 53, menyatakan, keberadaan kandang ayam tidak hanya mencemari lingkungan. Tapi juga berdampak terhadap hewan ternak warga. Dia menyebut kambing miliknya tiba-tiba mati mendadak. Kambing tersebut mati akibat bakteri yang dibawa lalat. "10 Juni kemarin mati satu. Total sudah ada enam yang mati. Itu kan dibedah, ternyata kena bakteri dari lalat. Ayam kampung juga begitu," bebernya kepada Radar Jogja Senin (23/5).
Menurutnya, kandang ayam yang berada di dekat permukiman tersebut tidak memperhatikan dampak negatif bagi warga. Dia pun meminta dinas terkait segera mengambil langkah tegas agar persoalan ini tidak semakin berlarut. "Jarak kandang, pengelolaan limbah, izin lingkungan jangan diabaikan. Ini seolah tidak diperhatikan," ujarnya.
Selama setahun terakhir, tak jarang warga juga mengeluhkan pusing hingga mual akibat bau menyengat yang ditimbulkan dari limbah. "Kadang saya tidur, mulut itu digerumuti lalat. Rumah isinya lalat. Serba repot pokoknya," keluh warga terdampak lainnya, Rohadi.
Pria 39 tahun itu mengungkapkan, sejatinya warga tidak begitu mempersoalkan segala jenis usaha. Asalkan pelaku usaha mentaati segala aturan serta peduli terhadap kondisi lingkungan. "Silakan usaha, tapi tidak ganggu warga. Saya tidak peduli, yang penting saling jaga," ungkapnya.
Diketahui, kandang berkapasitas sekitar 10 ribu ekor ayam tersebut mulai beroperasi sejak awal 2025. Usut punya usut, usaha peternakan ayam ini dikelola oleh ketua rukun tetangga (RT) setempat tanpa izin lingkungan.
"Kandang tidak izin sama sekali. Pas dibangun, tidak ada pemberitahuan atau sosialisasi. Tetangga saya saking tidak kuatnya, mau pindah rumah," beber Rohadi.
Ketua BPD Desa Karangrejo Dariman menyatakan, keberadaan kandang ayam skala besar tersebut memang telah menjadi keresahan bersama. Dia berharap persoalan ini dapat segera terselesaikan, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. "Keluhan warga sudah banyak. Prinsip kami, monggo saja usaha, yang penting tidak mencemari," katanya. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita