MAGELANG - Keberadaan bank sampah unit (BSU) di lingkungan RW Kota Magelang terbukti berkontribusi nyata dalam pengelolaan sampah di wilayahnya. Terutama soal pengurangan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Banyuurip.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang M Yunus menyebut, setidaknya 10 persen sampah yang semestinya masuk ke TPSA Banyuurip. Namun, sampah tersebut berhasil dikelola melalui jaringan bank sampah.
Itu menandakan bahwa BSU menjadi penggerak utama budaya menabung sampah yang dipilah dari rumah. Saat ini, dari total 192 RW di Kota Magelang, sudah terbentuk 99 BSU. Meski yang aktif berkegiatan tercatat sekitar 60 unit.
Baca Juga: Klaim Hanya Bela Diri Setelah Ditendang, Petani Saptosari Ini Malah Jadi Terdakwa
Bentuknya bukan sekadar penukaran, tetapi menabung sampah. "Dari rumah, warga memilah sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam, lalu disetorkan ke BSU di RW masing-masing. Kemudian, sampah tersebut dijual ke bank sampah induk," katanya, Rabu (18/6).
Menurut Yunus, meskipun baru menyasar sampah anorganik, peran BSU sangat penting dalam memperpanjang usia TPSA Banyuurip yang saat ini sudah dalam kondisi penuh (overload). Apalagi, beberapa BSU juga menjadi bagian dari program Kampung Iklim yang kini sudah ada di 17 titik.
Sementara sampah organik mulai ditangani melalui budi daya maggot. "Jadi mulai terlihat, bank sampah bukan hanya urusan anorganik, tapi mulai menyasar organik," lontarnya.
DLH Kota Magelang menyatakan akan terus melakukan pendampingan dan mendorong pembentukan BSU di seluruh RW. Target jangka panjangnya adalah menekan beban sampah di TPA Banyuurip sekaligus membentuk kebiasaan memilah sampah dari sumbernya.
Bank sampah induk Kota Magelang yang berlokasi di kompleks kantor DLH menjadi pusat pengumpulan dan pengelolaan sampah dari BSU, sekolah, rumah tangga, dan OPD. Setiap harinya, rerata 3-5 kuintal sampah layak jual diangkut dan dipilah.
Dalam sebulan, totalnya bisa mencapai 10 ton. Semua sampah yang ditampung merupakan hasil pemilahan. "Kami keliling jemput bola ke rumah-rumah," ujar pengurus Bank Sampah Induk Kota Magelang Enti Srihardani.
Sistem kerja bank sampah mirip seperti menabung di bank keuangan. Warga yang menyetorkan sampah akan dicatat berapa kilogram dan jenisnya, lalu dikonversi ke dalam nilai rupiah. Penarikan bisa dilakukan setiap Rabu dalam bentuk uang tunai.
Nasabah bank sampah juga diberi buku tabungan sebagai bukti transaksi. "Reward-nya bukan hanya uang. Biasanya juga ada lomba saat Hari Lingkungan Hidup atau pelatihan sekolah sampah," jelas Enti.
Tak hanya anorganik, bank sampah juga mulai menerima sampah organik dalam skala terbatas. Sampah sisa makanan dari rumah makan, misalnya, digunakan untuk budi daya maggot dan produksi kompos.
Sejauh ini, Enti menyebut, kesadaran masyarakat dalam memilah sampah kini makin membaik. Dukungan juga datang dari sektor swasta yang aktif mengumpulkan dan menyerahkan sampah layak jual ke BSU.
Menurutnya, kolaborasi itu menunjukkan gerakan kolektif yang kuat. "Sekarang masyarakat lebih sadar. Bahkan instansi swasta juga menyetorkan sampah ke BSU," bebernya. (aya)
Editor : Sevtia Eka Novarita