Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengelolaan Sampah Organik Jadi PR Kota Magelang, Hari Lingkungan Hidup Jadi Momentum Refleksi

Naila Nihayah • Kamis, 19 Juni 2025 | 16:10 WIB

 

OVERLOAD: Sel aktif yang menampung sampah di TPSA Banyuurip sudah kritis.
OVERLOAD: Sel aktif yang menampung sampah di TPSA Banyuurip sudah kritis.
 

MAGELANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang mencatat volume timbunan sampah di wilayahnya mencapai 70-80 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 75 persen merupakan sampah organik. Sementara sisanya terdiri dari anorganik dan residu. 

"Sejauh ini, kita baru bisa mengelola sampah anorganik melalui bank sampah, penjualan langsung, atau daur ulang," kata Kepala DLH Kota Magelang M Yunus di Alun-Alun Kota Magelang Rabu (18/6).

Kondisi makin pelik lantaran Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Banyuurip yang menjadi satu-satunya lokasi pembuangan, kini dalam status overload. TPA tersebut saat ini masih mengandalkan sistem landfill tanpa pengelolaan lanjutan. Hanya ditimbun dan diuruk demi memperpanjang usia pakai lahan.

 Baca Juga: Warga Minta Dukuh Jimatan Mundur, Selain Kasus Perselingkuhan, Kinerja Dinilai Buruk

Harapan pun tertumpu pada pembangunan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) regional di Bandongan, Kabupaten Magelang. TPST tersebut dijadwalkan mulai dibangun pada 2026 dan beroperasi 2027. 

TPST ini, lanjut Yunus, digadang-gadang mampu mengolah sampah organik dan anorganik menjadi refuse derived fuel (RDF), yaitu bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sehingga keberadaan TPST itu mampu menjadi solusi penanganan sampah di Kota Magelang.

Yunus mengatakan, ketika TPST itu sudah beroperasi, volume sampah yang masuk ke TPSA Banyuurip bisa dikurangi sedikit demi sedikit. "Syukur-syukur bisa kita tutup dan alihkan semuanya ke TPST," ujar Yunus.

 Baca Juga: Tunggu Restu Polda DIY, PSIM Incar MagIS Jadi Markas: Panpel Upayakan Juni Ini Miliki Kandang Definitif

Namun, permasalahan lingkungan tidak berhenti pada urusan infrastruktur. Kota Magelang juga menghadapi tantangan kultural dan spasial. Yunus menyoroti bahwa kesibukan masyarakat menjadi kendala dalam edukasi pengelolaan sampah. 

 

Menurutnya, masyarakat belum memiliki cukup waktu untuk mengolah sampah rumah tangga karena kesibukan sehari-hari. Di sisi lain, keterbatasan lahan membuat banyak unit bank sampah kesulitan mencari tempat penyimpanan sementara.

 

Untuk mengatasi hal itu, DLH berupaya memperbesar kapasitas armada pengangkutan. "Dulu satu mobil, sekarang kami target bisa dua mobil per hari," lontarnya. 

 

Karena itu, dia menilai, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni menjadi cermin serius bagi Kota Magelang untuk meninjau ulang kondisi pengelolaan sampah yang kian mendesak. Di balik semangat edukasi dan gerakan kolektif yang digaungkan pemerintah, realitas di lapangan menunjukkan persoalan lingkungan yang tidak bisa lagi ditunda penyelesaiannya.

 Baca Juga: Pulang Nugas Jadi Korban Pelecehan Seksual di Jalan Tongkol Raya Minomartani, Polisi Buru Pelaku

Sekretaris Daerah Kota Magelang Hamzah Kholifi menyebut, peringatan Hari Lingkungan Hidup bukan sekadar seremoni tahunan. Tapi sebagai pengingat bahwa masa depan lingkungan sangat ditentukan oleh perilaku sehari-hari.

 

Dia pun mengajak masyarakat untuk memulai gaya hidup ramah lingkungan dari lingkup terkecil: rumah tangga. "Kita harus membiasakan diri mengurangi sampah, terutama plastik karena dampaknya bisa mengganggu kita semua," paparnya. (aya)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Kabupaten Magelang #bank sampah #Dinas Lingkungan Hidup (DLH) #anorganik #TPST #TPSA #volume #Bandongan #Banyuurip #tempat pembuangan sampah akhir #Sampah #residu #TPSA Banyuurip #Kota Magelang #tempat pengolahan sampah terpadu #organik