MAGELANG - Ratusan umat dari berbagai daerah mengikuti ritual puja, pradaksina, dan meditasi di atas struktur candi yang dipandu Bhikkhu Ditti Sampanno. Ritual pagi itu bukan sekadar ibadah biasa. Melainkan uji coba penyelenggaraan wisata spiritual yang mengintegrasikan nilai-nilai kebudayaan dan keagamaan di Candi Borobudur.
Alih-alih berfokus pada pariwisata massal, program cultural spiritual inclusive (CSI) mendorong Borobudur kembali menjadi ruang sakral bagi praktik spiritual umat Buddha.
Bhikkhu Ditti menjelaskan, CSI merupakan turunan dari kebijakan pemerintah yang menetapkan Borobudur sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).
"Borobudur bukan hanya situs sejarah, tapi tempat suci. Banyak umat Buddha dari seluruh dunia ingin beribadah di sini," ujarnya usai kegiatan Kamis (12/6).
Program CSI, kata dia, menjawab kebutuhan tersebut. Menurut Bhikkhu Ditti, program ini dirancang untuk memberikan ruang dan waktu yang layak bagi umat Buddha. Supaya mereka dapat menjalankan ibadah secara khusyuk di Candi Borobudur.
Dia menyebut, program ini merupakan hasil kerja sama lintas sektor. Selain menggandeng Yayasan Dharmayatra Nusantara Utama di Borobudur, pelaksana juga melibatkan berbagai majelis agama Buddha, perguruan tinggi keagamaan, serta pelaku industri pariwisata di Magelang dan Jogjakarta.
Bhikkhu Ditti menegaskan, CSI bukan sekadar ritual semata. Melainkan bentuk pemaknaan ulang atas fungsi spiritual Candi Borobudur. Dia berharap pengelola bisa menyediakan ruang khusus bagi umat Buddha untuk beribadah dengan tenang, tanpa mengganggu wisatawan.
Selain itu, CSI diharapkan bisa menjadi model tetap bagi integrasi wisata dan spiritualitas. Sekaligus mengembalikan fungsi Borobudur sebagai pusat ibadah umat Buddha dari seluruh dunia.
Peserta program trial CSI dari Semarang Candra Dvijayanti menyebut, pengalaman CSI ini berbeda dibanding kunjungan biasa ke Candi Borobudur. "Kalau biasanya kita tidak tahu arah puja atau meditasi seperti apa, juga tidak ada pendamping," lontarnya.
Sementara pada program CSI, para umat didampingi oleh biksu. Sehingga langkah spiritualnya terasa lebih mantap. Dia juga merasakan pengalaman spiritual yang mendalam karena sebelumnya dibekali dengan meditasi sebagai persiapan batin.
"Jadi ketika kita naik ke candi, hati sudah tenang, tidak banyak distraksi. Kalau datang sendiri, kadang fokusnya malah jadi wisata, bukan religi," tambahnya.
Dirjen Bimas Buddha, Kementerian Agama Supriyadi sangat mendukung pelaksanaan Dharmayatra bertajuk CSI di Candi Borobudur. Menurutnya, kegiatan ini memperkokoh posisi Candi Borobudur yang merupakan tempat untuk destinasi kunjungan umat Buddha Indonesia dan dunia.
Terlebih, kata dia, Ditjen Bimas Buddha secara masif terus melakukan kegiatan keagamaan dan mempromosikan Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Sewu, sebagai wisata religi umat Buddha Indonesia dan dunia.
"Berbagai kegiatan keagamaan digelar di Candi Borobudur seperti peringatan detik-detik Waisak, Kathina, Magha Puja, Asadha Chanting, Pabajja Samanera dan kegiatan lainnya," jelas Supriyadi. (laz)
Editor : Heru Pratomo