Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sekolah Rakyat Buka Asa Baru bagi Keluarga Kurang Mampu di Magelang

Naila Nihayah • Kamis, 5 Juni 2025 | 02:40 WIB

 

 

KUNJUNGAN: Wamensos mengunjungi rumah salah satu calon siswa Sekolah Rakyat di Desa Jogomulyo, Tempuran Rabu (4/6).
KUNJUNGAN: Wamensos mengunjungi rumah salah satu calon siswa Sekolah Rakyat di Desa Jogomulyo, Tempuran Rabu (4/6).
 

MUNGKID - Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi titik terang bagi keluarga kurang mampu di berbagai daerah. Termasuk bagi ibu enam anak asal Tempuran, Kabupaten Magelang Endang Ristiningsih. Sejak sang suami meninggal, Endang menghidupi keluarganya dengan berjualan keripik.  

Beruntung, anak kelimanya, Ely Nur Layla turut membantu dengan menjajakan dagangan ke sekolahnya. Dengan penghasilan sekitar Rp 900 ribu per bulan, Endang harus mencukupi kebutuhan hidup tiga anak yang masih tinggal bersamanya. Sementara tiga lainnya merantau.

 Baca Juga: Tercatat Hingga April Hipertensi di Bantul Mencapai 40.710 Kasus

Kondisi tersebut membuat Ely sempat kehilangan harapan untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus dari bangku SMP. Namun, kehadiran Sekolah Rakyat yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto memberikan peluang baru bagi keluarga kurang mampu seperti Ely. 

Endang mengaku, mendapat informasi mengenai pendaftaran Sekolah Rakyat itu didapat sekitar April 2025. "Di grup penerima bantuan program keluarga harapan (PKH), ada informasi itu, terus saya langsung panggil Ely," ujarnya di kediamannya, Desa Jogomulyo, Tempuran Rabu (4/6). 

 Baca Juga: Kontroversi Ustadzah ‘Transgender’ Shuniyya Ruhama yang Aktif Berdakwah di Lingkungan NU

Setelah itu, dia mulai mencari informasi soal biaya yang dikeluarkan untuk mendaftar Sekolah Rakyat tersebut. Tanpa ragu, dia segera mendaftarkan Ely, usai memastikan biaya pendidikan dapat dijangkau. Bahkan, dibiayai penuh oleh pemerintah. 

Namun sebelumnya, dia tidak mengetahui jika seluruh siswanya akan tinggal di asrama. "Saya tahunya kayak sekolah biasa. Berangkat pagi, pulang sore. Karena niatnya sekalian mau nitip untuk menjual keripik seperti biasa," lontarnya. 

 Baca Juga: TNI AD Buka Rekrutmen Tamtama dan Bintara Juni 2025: Ini Jadwal dan Syarat Lengkapnya

Ely, yang kini menjadi calon siswa Sekolah Rakyat di Antasena, Salaman, mengaku senang bisa melanjutkan pendidikan. Meski harus tinggal di asrama dan berpisah sementara dengan ibunya, dia menyambut kesempatan ini dengan semangat.

 

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengungkapkan, sekolah ini dirancang khusus untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sebagai upaya memutus mata rantai kemiskinan dan membangun kembali harapan masa depan.

 

Sekolah Rakyat, lanjutnya, kini menjadi bukti nyata bahwa dengan dukungan negara dan pendidikan bukan lagi kemewahan. Melainkan hak yang bisa diakses semua anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang ekonomi.

 Baca Juga: Kontroversi Ustadzah ‘Transgender’ Shuniyya Ruhama yang Aktif Berdakwah di Lingkungan NU

"Sekolah Rakyat itu sangat penting untuk memotong transmisi kemiskinan dan membangun harapan dari keluarga yang kurang mampu," kata Agus.

 

Rencananya, sekolah akan mulai aktif pada Juli mendatang, lengkap dengan fasilitas asrama. Termasuk tempat singgah sementara bagi orang tua yang datang menjenguk anaknya. (aya/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Kabupaten Magelang #tempuran #Program Keluarga Harapan (PKH) #titik terang #Pendidikan #keluarga kurang mampu #program #Sekolah #Sekolah Rakyat #SL #Antasena #penerima bantuan