Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Latiful Hidayat, Warga Desa Karangtanjung, Alian, Kebumen yang 17 Tahun Geluti Bisnis Telur Asin, Hasil Produksinya Dikirim sampai Meksiko

Muhammad Hafied • Rabu, 28 Mei 2025 | 05:00 WIB
LARIS MANIS: Geliat usaha produksi telur asin yang digagas Latiful Hidayat, 45, warga Desa Karangtanjung, Kecamatan Alian.
LARIS MANIS: Geliat usaha produksi telur asin yang digagas Latiful Hidayat, 45, warga Desa Karangtanjung, Kecamatan Alian.

KEBUMEN - 17 tahun sudah Latiful Hidayat, 45, menggeluti bisnis telur asin. Namun baru kali ini dia bisa menikmati manisnya berwirausaha. Telur asin hasil produksinya sekarang mulai moncer setelah diterima pasar nasional, bahkan hingga internasional.

Bagi Latif, membuka usaha telur asin bukan sekadar ajang jual beli. Tapi juga ikut mempertahankan warisan leluhur. Sebab tidak semua wilayah mampu menghasilkan telur asin berkualitas dengan menggunakan metode tradisional. "Saya sebut warisan dunia. Coba cari, negara mana yang buat telur asin seperti di Indonesia?," lontarnya Selasa (27/5).

Bapak enam anak itu tak berkecil hati, meski terkadang berjualan telur asin masih dipandang sebelah mata. Dia juga bangga karena usaha yang dijalankan tersebut telah membuka jalan rezeki bagi orang lain. Saat ini, rumah produksi telur asin yang dikelola Latif memperkerjakan 30 karyawan. Semua merupakan tetangga sekitar rumahnya di Desa Karangtanjung, Kecamatan Alian.

Dalam sehari, Latif mampu menjual sedikitnya 3.000 butir telur asin dalam sehari. Permintaan tersebut datang dari berbagai daerah di tanah air. Bahkan rekor terbaru telah tembus hingga pasar mancanegara. "Sudah kirim ke Singapura. Paling jauh sampai Meksiko," sebutnya.

Secara kasat mata, telur asin buatan Latif tidak jauh beda dengan produksi daerah lain. Hanya saja, tekstur telur buatannya cenderung lebih kentara. Dari segi aroma dan rasa asin yang dihasilkan cukup menggugah selera. "Semua pakai bahan premium. Kalau ada satu butir busuk, saya garansi ganti 20 butir," katanya.

Latif bercerita, menjalankan usaha telur asin tidak semudah membalik telapak tangan. Dia harus banyak bereksperimen demi menjaga cita rasa agar tidak ditinggal konsumen. Belum lagi, usaha tersebut juga dihadapkan kondisi harga pasar yang tidak stabil.

Namun, tantangan itu telah terjawab seiring dirinya banyak belajar dari pengalaman. Kini, omzet yang dihasilkan dari usaha telur asin tidak kurang dari Rp 500 juta dalam sebulan. "Ini lagi pesan alat lagi, biar produksnya optimal. Kebutuhan sekarang sudah semakin banyak," katanya.

Latif mengatakan, banyaknya pesanan yang datang tidak lepas karena dirinya memanfaatkan sistem jual beli online. Hadirnya platform digital diakui cukup mendongkrak penjualan telur asin selama ini. "Ini lagi pertimbangan, saya diminta ekspor ke Singapura sama Jerman 5.000 butir. Masih saya pikir dulu," ucap Latif. (fid/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Permintaan #telur asin #alian #Metode Tradisional #kebumen #meksiko #bisnis #Warisan Budaya #Latiful Hidayat #Online #Desa Karangtanjung #Dikirim