Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Puncak Waisak Pukul Gong dan Percikkan Air Berkah, Menag Nasarudin Umar: Inti Waisak Adalah Kontemplasi

Naila Nihayah • Rabu, 14 Mei 2025 | 02:29 WIB

 

PEMBACAAN DOA: Sebelum detik-detik Waisak, para biksu dari berbagai sangha dan umat Buddha melantunkan doa, Senin malam (12/5).
PEMBACAAN DOA: Sebelum detik-detik Waisak, para biksu dari berbagai sangha dan umat Buddha melantunkan doa, Senin malam (12/5).

MUNGKID - Di bawah bulan purnama, ribuan umat Buddha tampak khusyuk melantunkan doa dalam memperingati Tri Suci Waisak 2569 BE/2025 di Lapangan Kenari, kompleks Candi Borobudur, Senin malam (12/5). Adapun detik-detik Waisak jatuh pada pukul 23.55.29.

Tri Suci Waisak menjadi momentum untuk memperingati tiga peristiwa penting. Yakni kelahiran Pangeran Siddharta, lalu pencapaian penerangan agung dan menjadi Buddha, serta wafatnya Buddha Gautama.

Waisak tahun ini mengusung tema Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan Mewujudkan Perdamaian Dunia. Dengan subtema Bersatu Mewujudkan Damai Waisak untuk Kebahagiaan Semua Makhluk.

Setelah kirab untuk mempersembahkan puja di altar utama Candi Borobudur, ada prosesi penyalaan lilin pancawarna dan dupa. Lantas, dilanjutkan dengan doa oleh masing-masing majelis sesuai aliran atau tradisinya.

Adapun pada pukul 23.55.29, ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali dilanjutkan pemercikan air berkah. Setelah itu, para umat akan melakukan pradaksina mengelilingi Candi Borobudur dipimpin oleh biksu sangha serta diakhiri dengan doa penutup.

Menteri Agama RI Nasarudin Umar mengatakan, inti dari perayaan Waisak adalah bagaimana umat berkontemplasi. "Kontemplasi itu jiwa dan pikiran kita fokus untuk merenungi apa arti kehidupan ini dan siapa sesungguhnya diri kita," lontarnya di hadapan ribuan umat.

Menurutnya, kontemplasi dinilai penting di era saat ini yang penuh dengan berbagai godaan. Dia menyebut, orang yang tidak pernah berkontemplasi, dikhawatirkan memiliki hati yang kering, pikiran tidak lurus, langkahnya tidak tegar, dan jiwanya tidak bersih.

Untuk itu, dia mengajak seluruh umat supaya berkontemplasi atau merenung terkait jati diri masing-masing. "Semoga malam ini tergores bekas yang sangat dalam pada peringatan Waisak ini. Sehingga begitu pulang, kita akan mengalami suasana kebatinan lain," papar imam Masjid Istiqlal Jakarta itu.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyampaikan, waisak bukan sekadar perayaan keagamaan. Melainkan sebagai tonggak sejarah agama Buddha yang meneguhkan nilai-nilai spiritual. "Tiga peristiwa penting Sang Buddha tak sekadar momen historis, namun melambangkan perjalanan spiritual yang agung," ungkapnya.

Ketua Panitia Waisak Nasional 2569 BE/2025 Siti Hartati Murdaya mengutarakan, umat Buddha diajak untuk merenungkan implementasi sila (moralitas) dengan menjaga ucapan dan tindakan. Kemudian, mengembangkan samadhi (konsentrasi) melalui meditasi agar batin tetap jernih.

Terakhir, mengasah panna (kebijaksanaan) sehingga mampu melihat segala sesuatu dengan pandangan benar. "Ketiga aspek ini merupakan fondasi penting dalam perjalanan spiritual menuju pembebasan sejati," paparnya.

Dia mengatakan, Tri Suci Waisak mengajarkan bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat tidak kekal (anicca), penuh penderitaan (dukkha), dan tanpa inti diri (anatta). Dengan memahami prinsip ini, umag diajak untuk tidak melekat pada hal-hal duniawi yang bersifat sementara dan terus mengembangkan kebijaksanaan serta cinta kasih.

Untuk itu, dia mengajak seluruh umat agar memanfaatkan perayaan Waisak sebagai momentum dalam meningkatkan kesadaran spiritual. Serta memperdalam praktik dhamma dan memperkuat komitmen dalam menyebarkan cinta kasih dan kebijaksanaan bagi semua makhluk. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Candi Borobudur #Buddha Gautama #Pangeran Siddharta #Nasarudin Umar #Tri Suci Waisak #menag #fadli zon