Api Abadi dari Grobogan dan Air Berkah Waisak dari Temanggung Disakralkan di Candi Mendut
Naila Nihayah• Senin, 12 Mei 2025 | 00:37 WIB
Air berkah dari Umbul Jumprit, Temanggung telah tiba di Candi Mendut untuk selanjutnya disakralkan.
MUNGKID - Api abadi dan air berkah untuk Waisak 2569 BE/2025 disakralkan di Candi Mendut. Kedua elemen itu bakal dibawa menuju Candi Borobudur saat kirab pada Senin (11/5). Api dan air tersebut merupakan satu bagian dari sarana puja bakti.
Api dharma itu diambil dari Sumber Api Abadi Mrapen, Grobogan dan telah disakralkan di Candi Mendut pada Sabtu (10/5). Api tersebut melambangkan semangat untuk menerangi. Umat percaya, Sang Buddha datang ke dunia untuk membawa penerangan bagi semua makhluk.
Sementara air berkah diambil dari Umbul Jumprit, Temanggung dan disakralkan di Candi Mendut, Minggu (11/5). Air tersebut biasanya digunakan untuk menyucikan diri. Termasuk menyucikan hati dan pikiran.
Air berkah itu tiba di kompleks Candi Mendut sekitar pukul 14.28. Air tersebut dimasukkan dalam sejumlah kendi. Lantas, diletakkan di depan altar yang berada di Candi Mendut dan dilanjutkan dengan menyalakan lilin pancawarna.
Setelah itu, para biksu dan umat Baddha dari berbagai sangha membaca doa paritta di depan altar secara bergantian. Karena sedang hujan, prosesi yang seharusnya dilanjutkan dengan pradaksina, diganti dengan blessing.
Ketua Dhammaduta Thailand untuk Indonesia Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera menuturkan, perwakilan umat Buddha telah mengambil air berkah di Umbul Jumprit, Temanggung. Umat Buddha meyakini, air yang ada di Umbul Jumprit, suci dan sakti. "Pengambilan air suci merupakan cara untuk membawa kedinginan atau kesejukan," ujarnya usai prosesi pensakralan.
Selain itu, air biasanya digunakan untuk menyucikan diri. Termasuk menyucikan hati dan pikiran. Dengan begitu, umat Buddha dapat menghindari keserakahan duniawi dan kebodohan batin. Juga terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan.
Bhikkhu Wongsin menambahkan, air juga menjadi simbol dari ketenangan. Umat Buddha percaya, mereka tidak bisa tenang jika ada kekotoran batin.
"Sehingga air dan api menjadi simbol yang digunakan dalam kegiatan Waisak," katanya yang juga sebagai ketua biksu sangha.
Dia mengatakan, api dan air itu disakralkan di Candi Mendut sebagai sarana puja bakti. Sebagai bentuk persembahan dalam tata cara upacara kegiatan ritual agama Buddha. Terlebih, air memiliki sifat yang bersih dan murni. Itu merefleksikan batin atau hati yang senantiasa bersih dan suci.
Bhikkhu Wongsin menyebut, api dan air itu nantinya akan dikirab bersama rombongan biksu dan umat Buddha dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur pada Senin (12/5). Sebagai bagian dari sarana puja pada saat puncak perayaan Tri Suci Waisak 2569 BE/2025. (aya)