MUNGKID - Jenazah konglomerat Murdaya Widyawimarta Poo dikremasi tepat pukul 11.00 di Bukit Dagi, kompleks Candi Borobudur.
Prosesi tersebut dilakukan secara tradisional yang dipimpin oleh biksu asal Tibet bernama Chungpo Gyalton Rinpoche.
Kremasi Murdaya Poo ini menggunakan kayu cendana dan gaharu sebanyak 1,5 meter kubik.
Kremasi ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap keyakinan dan nilai-nilai spiritual yang dipegang teguh sepanjang hidupnya.
Peti jenazah Murdaya Poo sudah disemayamkan di kaki Bukit Dagi pada Selasa (6/5/2025).
Banyak biksu maupun umat Buddha yang melakukan puja amitabha atau penghormatan kepada mendiang Murdaya Poo.
Lantas, pada Rabu (7/5/2025), peti jenazahnya dibawa menuju puncak Bukit Dagi untuk dilakukan kremasi.
Dari tempat persemayaman, peti Murdaya Poo dibawa menuju puncak Bukit Dagi diiringi doa dari perwakilan sangha Tantrayana, Mahayana, dan Theravada.
Lalu, diikuti oleh keluarga serta sanak saudara.
Namun, prosesi itu berlangsung tertutup dan hanya diikuti keluarga, sanak saudara, serta para biksu.
Peti jenazah Murdaya Poo diangkut dengan mobil menuju Bukit Dagi.
Di sekeliling titik kremasi, ada sejumlah tenda sementara yang didirikan agar keluarga maupun para biksu bisa menyaksikan serta mendakan mendiang Murdaya Poo.
Peti jenazah Murdaya Poo pun segera ditutup oleh kayu, sementara di bawahnya ada alas berupa batu bata.
Sebelum api dinyalakan, ada prosesi doa yang dipimpin oleh seorang biksu dan diikuti seluruh orang yang hadir.
Prosesi tersebut diperkirakan akan berlangsung sekitar lima hingga delapan jam.
Anak kedua Murdaya Poo, Prajna Murdaya mengatakan, kremasi secara tradisional itu merupakan keinginan dari keluarga.
"Ini (kremasi secara tradisional) sesuai dengan tradisi Buddhis yang dipimpin oleh seorang biksu dari Tibet," ujarnya, Rabu (7/5/2025).
Dia menuturkan, abu mendiang sang ayah baru dibawa satu atau dua hari, sembari menunggu dingin.
Pada Jumat (9/5/2025), abu tersebut dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam guci untuk didoakan.
Pada Senin (12/5/2025) atau tepat saat puncak perayaan Tri Suci Waisak, abu itu dibawa ke altar yang berada di Zona I, kompleks Candi Borobudur.
Istri Murdaya Poo, Siti Hartati Murdaya mengutarakan, hari ini tepat satu bulan meninggalnya sang suami.
Dia mengaku tercengang karena teman sang suami sangat banyak.
Bahkan, kata dia, setiap hari ada yang mendoakan mendiang Murdaya Poo dari berbagai golongan dan agama.
Terutama umat Buddha yang berbondong-bondong melaksanakan puja bakti.
Dia pun berterima kasih atas doa yang dipanjatkan untuk Murdaya Poo.
Dia merasa lega karena sang suami tidak merasakan sakit.
Tetapi di sisi lain, dia juga merasa kehilangan.
"Beliau sudah bahagia dan berhasil meninggalkan jasadnya yang sudah sangat berat karena penyakit dan usia," paparnya.
Untuk itu, dia berjanji akan berbuat yang terbaik.
Apa yang dicita-citakan, satu per satu akan dicapai.
Termasuk menjaga keluarganya.
"Semoga beliau di sana akan damai dan mencapai dunia yang kekal abadi," sambung Hartati.
Sementara itu, Dirjen Bimas Buddha Kemenag Supriyadi menambahkan, proses kremasi ini merupakan satu proses untuk penyempunaan fisik.
Umat Buddha meyakini, sesuatu yang tercipta, tidak kekal.
"Kami turut menyertai beliau (Murdaya Poo) untuk prosesi kremasi dan melimpahkan jasa kebajikan serta mengiringi perjalanan beliau ke alam yang lebih bahagia," katanya. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin