MUNGKID - Empat santri Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 5 Darul Qiyam, Magelang meninggal dunia.
Itu karena mereka tertimpa reruntuhan tembok kolam penampungan air yang ambrol.
Proses evakuasinya berlangsung selama 13 jam dan sempat terkendala oleh area yang cukup sempit hingga pencahayaan yang minim.
Koordinator Basarnas Unit Siaga SAR Borobudur Basuki mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.30 saat para santri hendak mengantre mandi untuk bersiap salat Jumat.
Tiba-tiba, tembok kolam penampungan air yang berada di dekat kamar mandi, ambrol dan menimpa para santri.
Pihak pondok berusaha menyelamatkan 20 santri secara mandiri dan segera dibawa ke RSUD Merah Putih.
Namun, masih ada beberapa santri yang terjebak di dinding kamar mandi.
"Sampai di lokasi (pondok), masih ada sembilan korban yang posisinya terjepit di antara pondasi dan kamar mandi," bebernya, Sabtu (26/4/2025).
Selama proses evakuasi, tim SAR gabungan mengalami kendala karena areanya cukup sempit, hanya sekitar satu meter.
Kondisi itu membuat tim berupaya mengevakuasi korban dari dalam kamar mandi.
Mengingat tidak ada akses lain untuk menjangkau mereka.
Ditambah dengan labilnya posisi talud sehingga tim harus ekstra berhati-hati.
Para santri itu tertimpa beton dengan ketebalan sekitar 50 sentimeter, ketinggian kurang lebih 3 meter, dan panjang 10 meter.
Selain itu, kata Basuki, tim juga harus berhati-hati saat mengevakuasi korban yang masih hidup.
"Jangan sampai mengancam keselamatan korban dan kami sendiri sebagai penolong," ujar Basuki.
Dia menyebut, saat proses evakuasi, tim menggunakan alat urban SAR yang digunakan dalam operasi pencarian dan pertolongan di lingkungan perkotaan yang mengalami bencana.
Alat-alat itu digunakan dengan sistem manual dan tidak menggunakan alat berat.
Sebab, lanjut Basuki, tim was-was dengan kondisi tanah yang masih labil itu dapat memperparah longsoran.
Selain itu, hari yang gelap semakin menyulitkan tim karena pencahayaan yang minim.
Dari sembilan korban itu, lima di antaranya selamat dan empat lainnya dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.
Untuk korban terakhir, kata dia, ditemukan pada pukul 23.30 dengan posisi yang berada di sekat kamar mandi.
"Yang mana di situ ada struktur kolong yang cukup keras sehingga mempersulit kami melakukan evakuasi."
"Sedangkan posisi kakinya terjepit di antara kolong tangga depan kamar mandi," jelasnya.
Basuki menyebut, santri yang tertimpa reruntuhan itu berjumlah 29 anak.
Sebanyak 20 di antaranya sudah dievakuasi pihak pondok.
Sementara sembilan santri lainnya bisa dievakuasi dalam kurun waktu sekitar 13 jam.
"Setelah semua korban berhasil kami evakuasi, operasi SAR kami nyatakan selesai dan ditutup," sambungnya. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin