MAGELANG - Magelang merupakan daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Temanggung sebagai daerah penghasil tembakau.
Tak heran jika Magelang pernah berjaya dengan mendirikan pabrik cerutu hingga menembus pasar Eropa.
Di Magelang, sebetulnya berdiri delapan industri cerutu. Satu pabrik yang paling berjaya adalah pabrik cerutu yang dipegang orang Tionghoa bernama Ko Kwat Le.
Tepatnya di Jalan Tarumanegara, Kota Magelang. Pabrik itu berdiri pada 1920.
Kendati sudah berdiri lebih dari satu abad, bangunan pabrik itu masih berdiri kokoh. Catnya berwarna merah muda dan sedikit memudar.
Di depan gedung terdapat pagar kayu berwarna biru muda. Bangunannya dilengkapi pintu utama, lengkap dengan gerbang besinya. Juga ada beberapa jendela yang tertutup rapat.
Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana menceritakan, pabrik cerutu ini semula berdiri di Batavia pada 1900.
Seiring berjalannya waktu, terdapat kendala soal ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja. Alhasil, pabrik ini dipindah ke Magelang dan diberi nama Ko Kwat Le & Zonen Sigarenfabrieken.
Dia menyebut, Magelang dipilih karena dekat dengan daerah penghasil tembakau, Temanggung.
"Awalnya, pabrik cerutu berada di Pecinan (rumah Ko Kwat Le). Terus pindah di Juritan Kidul (perkampungan). Ko Kwat Le mendirikan rumah dan di sebelahnya ada pabrik cerutu," katanya Senin (14/4/2025).
Ada berbagai macam produk cerutu di pabrik ini seperti cerutu Panama-Ster, Deli-Havana, Missigit-Deli, dan Carnaval.
Akibat pecah Perang Dunia I, membuat permintaan cerutu dari Eropa meningkat pesat. Karenanya, pada 1920, Ko Kwat Le mendirikan pabrik dengan skala besar di Prawirokusuman Wetan. Atau sekarang dikenal Jalan Tarumanegara.
Bagus menyebut, pabrik itu bisa menampung 2.500 hingga 3.000 pekerja. Dia juga mendatangkan mesin produksi baru di pabrik itu.
Lambat laun, hasil produksi cerutu Ko Kwat Le digemari oleh kalangan atas dan tembus hingga pasar Eropa. Khususnya Belanda, Jerman terus di Hindia Belanda.
"Hasil produksinya memang untuk kalangan tertentu, kalangan orang berada diekspor ke Eropa. Jadi, segmented untuk kalangan orang-orang menengah ke atas," lontarnya.
Pabrik cerutu milik Ko Kwat Le pun cukup moncer di wilayah Hindia Belanda.
"Dulu pernah dikunjungi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda (saat itu). Terus dari Solo, Paku Buwono X. Artinya, pabrik ini cukup terpandang, cukup disegani dan populer," tambahnya.
Puncak kejayaan pabrik cerutu milik Ko Kwat Le terjadi pada 1927 dan 1928. Kendati begitu, masa kejayaan pabrik cerutu itu tidak berlangsung lama.
Krisis ekonomi yang terjadi di Eropa pada 1930, membuat penjualannya mulai tersendat.
Kondisi pabrik semakin memburuk saat pendirinya, Ko Kwat Le meninggal pada 1938. Beberapa tahun kemudian, penjajah Jepang yang mulai masuk ke Hindia Belanda membuat pabrik itu semakin kesulitan untuk bertahan.
Lantas, ketika Jepang masuk Magelang pada 1942, terjadi Perang Dunia II. "Hal itu berdampak pada pengiriman hasil ekspor cerutu. Di wilayah Hindia Belanda sama halnya para konsumen nggak ada," paparnya.
Di era kemerdekaan, anak-anak Ko Kwat Le pernah berusaha menghidupkan kembali bisnis tersebut. Namun, pasar cerutu sudah tidak eksis lagi.
"Sehingga secara pelan tapi pasti, pabrik itu mengurangi produksi dan pada akhirnya tutup sekitar tahun 1970-an," tambahnya.
Setelah pabrik tutup, lanjut Bagus, mereka berusaha eksis kembali dengan olahan sirup, namun tidak berhasil.
Kemudian saat ini bekas pabrik cerutu itu sudah berpindah tangan menjadi milik perusahaan karoseri mobil. (laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita