MAGELANG - Banyak cara mengisi waktu luang, salah satunya dengan menekuni hobi yang berdampak positif.
Bagi Siti Roqidah, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tidar (Untidar), menulis bukan sekadar hobi biasa. Ia menjadikannya sebagai wadah untuk berpikir kritis, menyalurkan ide, dan menciptakan karya-karya inspiratif.
“Bagi saya, menulis adalah satu wadah untuk berbagi dan menuangkan ide, gagasan, hingga perasaan ketika lingkungan sekitar saya tidak punya waktu untuk mendengar,” katanya, Jumat (11/4/2025).
Sejauh ini, ide tulisan justru datang ketika dirinya sedang galau atau perasaannya tak keruan. Tapi, terkadang dia mulai menulis ketika ide yang tiba-tiba datang. Entah melihat suatu momen tertentu atau melewati tempat yang menurutnya menarik untuk ditulis.
Ketika perasaannya baik, dia akan bersemangat untuk mengerjakannya. "Misal di perjalanan tiba-tiba di kepala ada presmis, saya catat dulu.
Biasanya bikin notes, entah di kepala atau ponsel. Seringnya bikin karya fiksi, sih," lontarnya.
Baca Juga: Mengaku Sebagai CS Shopee, Penipu Berhasil Meraup Rp 54 Juta untuk Deposit Slot: 50 Sasaran Sehari, Penipu Diringkus di Palembang
Hingga kini, sudah ada lebih dari 20 buku antologi puisi dan cerpen yang dibuat bersama teman-temannya.
"Kalau akhir-akhir ini suka nulis naskah lakon. Ada yang beberapa tuntas dikerjakan dan dipentaskan oleh anggota himpunan program studinya," imbuhnya.
Bahkan, dia sempat mewakili Untidar di ajang Pekan Seni Mahasiswa Dua Tahunan (Peksimida) Jawa Tengah pada 2024 dan meraih medali silver.
Tidak hanya itu, dia juga pernah menjuarai ajang Pekan Seni Mahasiswa Fakultas (Peksimitas) Tangkai Penulisan Lakon Untidar dan mendapat urutan nomor 1.
Baca Juga: Harus Akui Tuan Rumah PSBS Biak meski Sempat Unggul, PSS Sleman Masih Betah Jadi Juru Kunci Klasemen
Selain fiksi, Roqi juga pernah mempublikasi jurnal, mengikuti lomba esai, dan lain-lain.
"Gegara menulis, saya jadi ikut dan main teater. Ada yang nonton, tuh. Akhirnya saya ditarik main film horor. (Cita-cita) ingin seperti Suzanne Collins yang membuat karya dan difilmkan," akunya.
Roqi berharap, hobi menulisnya ini akan terus menelurkan puluhan hingga ratusan karya. Karena bagi dia, menulis adalah bentuk persembahan paling manis.
"Seperti kata Pram, 'menulis adalah bekerja untuk keabadian'. Saya tentu berharap bisa hidup dengan tulisan-tulisan saya dan semoga tulisan saya masih hidup ketika saya mati," sambungnya. (aya/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita