MAGELANG - Tinggi gunungan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Banyuurip sudah tembus 25 meter. Kondisinya sudah kelebihan kapasitas dengan total volume sampah yang diterima berkisar antara 69 hingga 71 ton per hari. Karena itu, UPT TPSA Banyuurip tengah melakukan penataan di sel aktif dengan pola terasering dari sistem landfill.
Kepala UPT TPSA Banyuurip Dede Panca Permana mengatakan, TPSA memiliki luas 6,852 hektare yang dibagi menjadi empat sel. Namun, dari jumlah sel tersebut, hanya tersisa satu sel aktif untuk menampung seluruh sampah. "Ada tiga sel pasif yang sudah tidak bisa ditambah dan mulai kami cicil untuk penghijauan serta penutupan dekomposisi sampah," ujar dia di kantornya, Rabu (12/3/2025).
Saat ini, kata Dede, tinggi gunungan mencapai 25 meter dengan volume timbunan sampah sekitar 490 ribu meter kubik. Volumenya akan dibatasi maksimal 500 ribu meter kubik. Untuk meminimalisasi kelongsoran pada gunungan sampah itu, UPT TPSA Banyuurip tengah membuat pola terasering dari sistem landfill.
Sistem tersebut merupakan sistem pengelolaan sampah dengan cara menimbun sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan menutupnya dengan tanah. Dia menyebut, tim operator alat berat tengah menata di area sel aktif seluas 18 ribu meter kubik. "Perkiraan kami, (sel aktif) bisa bertahan sekitar empat tahun," sebutnya.
Dede mengatakan, ketinggian tersebut berpotensi menimbulkan risiko, seperti kebakaran dan lainnya. Karenanya, UPT TPSA Banyuurip tengah memetakan penambahan area dan menurunkan ketinggian sampah. Selain itu, dia juga tengah menunggu pembangunan TPST Regional di Bandongan yang diprediksi selesai pada 2027. Nantinya TPST itu bakal menampung sampah dari kota maupun Kabupaten Magelang.
Dia menuturkan, dengan adanya TPST itu, praktis TPSA Banyuurip akan ditutup. Ke depan, UPT TPSA Banyuurip bakal melakukan pemeliharaan selama kurang lebih 20 tahun. Dari segi gas metan, air lindi, dan open dumping atau pembuangan terbuka. "Di sini nanti ada monitoring, evaluasi, dan pengawasan berkala. Ada pengurukan tanah secara rutin juga dan dialihkan untuk penghijauan," paparnya.
Dia menyebut, saat ini TPSA Banyuurip menerima sampah dari Kota Magelang dan area penyangga sekitar, khususnya di Kecamatan Tegalrejo. Selama ini, Pemkot Magelang juga tidak menarik retribusi sampah tersebut. Pada 2022, TPSA Banyuurip menerima sampah sekitar 60 ton per hari. Namun kini, sampah yang masuk sekitar 69 hingga 71 ton per hari.
Proporsinya 60 hingga 70 persen terdiri dari sampah rumah tangga dan sisanya sampah dari pasar. Jumlah tersebut, lanjut dia, terus mengalami peningkatan. Lantaran jumlah pendatang yang datang Kota Magelang setiap tahunnya meningkat. Bahkan, saat ada kegiatan skala besar, seperti tahun baru, volume sampah yang masuk bisa mencapai 130 ton per hari.
Dia berharap, warga Kota Magelang dapat berperan aktif untuk mengurangi produksi sampah. Satu di antaranya dengan cara memilah di tingkat rumah tangga. Dengan begitu, volume sampah yang ada di TPSA Banyuurip tidak bertambah. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin