MUNGKID - Kue kereng, jajanan tradisional yang kerap disajikan saat Lebaran, kini kembali menjadi primadona di Dusun Kerten, Krincing, Secang, dengan meningkatnya permintaan selama Ramadan.
Kue yang mirip eggroll ini memiliki diameter lebih besar dan bentuk lebih pendek, sering disebut semprong oleh masyarakat setempat.
Pembuatannya masih dilakukan secara manual dan tradisional, menggunakan peralatan sederhana seperti tungku perapian.
Sebagian besar warga Dusun Kerten terlibat dalam produksi kereng, yang dapat terlihat dari dapur-dapur mereka yang dipenuhi dengan kepulan asap.
Proses pembuatan kereng menggunakan bahan dasar beras ketan, parutan kelapa, dan gula, yang menghasilkan cita rasa gurih manis.
Meskipun jajanan modern semakin menggantikan kereng, permintaan untuk kue ini tetap tinggi karena sudah menjadi camilan wajib saat Lebaran.
Seorang produsen kereng di Dusun Kerten, Krincing Rikanah biasa membuat kue tersebut hanya saat Ramadan.
Namun, ia juga sesekali membuatnya saat ada pesanan di hari biasa.
Dia sudah memproduksi kereng sekitar 20 tahun silam dan merupakan generasi kedua.
Pembuatan kereng di dusunnya ini, memang sudah dilakukan turun-temurun dan menjadi idola bagi konsumen.
Dia menyebut, bahan baku yang digunakan berupa beras ketan, parutan kelapa, dan gula yang dicampur menjadi satu.
Meski cukup sederhana, namun proses pembuatannya tidak mudah karena butuh ketelatenan dan kesabaran.
Sebab, dia saban harinya harus berhadapan dengan panasnya tungku api. Lantaran sudah terbiasa, saat Ramadan pun, ia tetap semangat melakoni pekerjaannya membuat kereng.
Baca Juga: Pemain Timnas Afganistan Bangga Bisa Jadi Bagian Sejarah PSIM Jogja Naik Ke Liga 1
Terlebih, pesanan yang diterima cukup banyak. Biasanya, dia memulai produksi setelah Subuh dan selesai ketika adonannya habis.
"Kalau Ramadan seperti ini, setiap hari membuat 4 kilogram (kg) kereng. Biasanya membuat pesanan orang," katanya, Senin (10/3/2025).
Dalam satu adonan dibutuhkan tiga kg tepung beras ketan, gula pasir satu kg, dan 10 butir kelapa.
Setelah semuanya dicampur, adonan tersebut diletakkan di atas wajan berbahan tanah liat dan di bawahnya tungku api.
Cara memanggangnya dengan mengolesi minyak di wajan. Setelah itu, adonan diratakan dalam wajan.
Ketika dilebarkan, adonan ditekan menggunakan ulekan yang sudah dilapisi plastik hingga tipis.
Bagian atas yang masih basah diambil, kemudian bagian bawah yang menempel pada wajan dikeruk.
Baca Juga: Pemprov Jateng Dukung PT Pos jadi Gerai Pangan Murah di Bawah HET
Setelah adonan rata dan sudah matang, dia akan membaginya menjadi garis menjadi beberapa bagian.
Sebelum adonan benar-benar kering, dia akan mengangkatnya satu persatu.
Sembari dilinting membentuk tabung berdiameter satu sentimeter dan panjang lima sentimeter.
Baca Juga: Dikira Boneka Mengambang di Sungai, Ternyata Mayat Seorang Kakek Warga Secang
Dalam satu adonan, bisa menghasilkan sekitar 4 kg kereng. Satu kg kereng biasa dijual dengan harga Rp 35 ribu, dengan catatan seluruh bahan bakunya berasal dari konsumen.
Namun, jika tidak, satu kg kereng dihargai hingga Rp 60 ribu.
Rikanah nenyebut, kereng bisa disimpan hingga 5 hingga 6 bulan.
Akan tetapi, bila lebih dari itu, kereng masih aman dikonsumsi karena produksi sendiri. Tidak menggunakan bahan pengawet. (aya/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita