MUNGKID - Pemandangan para lansia duduk sembari membaca Al quran di Ponpes Sepuh, kompleks Masjid Agung Payaman, Kabupaten Magelang sudah menjadi hal yang lazim. Meski usianya tak lagi muda, semangat untuk mengaji dan mencari pahala saat Ramadan patut diacungi jempol. Bahkan, mereka sengaja nyantri di pondok tersebut agar lebih berkonsentrasi dalam beribadah.
Tidak hanya warga Magelang saja yang nyantri di sana, tapi juga dari luar daerah. Seperti Wonosobo, Demak, Temanggung, dan lainnya. Terlebih, ponpes itu sudah ada sejak lama. Selain nyantri selama Ramadan atau pasan, puluhan lansia itu ada yang sudah bermukim atau nyantri bertahun-tahun sana. Sesekali pulang saat ada kepentingan mendesak atau sekadar rindu anak-cucu.
Warga Kendal Musriati, 68 menyebut, 2025 ini menjadi tahun kedua baginya ikut nyantri di ponpes sepuh. Tidak sendirian, dia pun mengajak sang kakak, Suwarni, 70 untuk bersama-sama memperdalam ibadah. "Kalau di rumah, tidak setiap hari bisa ngaji. Kalau di sini, banyak kegiatan, bisa ngaji terus. Buat bekal di akhirat," lontarnya saat ditemui, Kamis (6/3/2025).
Biasanya, Musriati sudah berada di ponpes sehari menjelang Ramadan dan akan pulang dua hari sebelum Lebaran. Karena menjadi santri selama Ramadan penuh, praktis toko sembako miliknya tutup untuk sementara waktu. Namun, hal itu bukan menjadi masalah besar. Mengingat keinginannya untuk nyantri terbilang tinggi.
Sementara itu, warga Secang Sri Haryani, 70 mengaku, sudah nyantri di ponpes sepuh sejak 2016 lalu. Saban Ramadan, dia selalu ikut kegiatan yang ada di sana. Sedangkan tidurnya di ponpes putri. Dia menyebut, lebih nyaman ikut nyantri di ponpes dibanding hanya di rumah saja. Sri ingin menambah ilmu dan amalnya. Termasuk mengaji setiap waktu tanpa adanya gangguan.
Selain bisa mengikuti kegiatan keagamaan, Sri juga bisa menambah teman. Sebab, banyak ibu-ibu seusianya yang ingin berkonsentrasi dalam beribadah di bulan Ramadan seperti dirinya. "Di sini, full ibadah. Sebelum subuh, ada mujahadah, lalu sahur dan salat Subuh berjamaah, dilanjutkan dengan ngaji tafsir Al quran," paparnya.
Setelah itu, pukul 06.00 - 07.00 dia bersama ratusan lansia lain akan mengikuti kultum yang diadakan oleh Muslimat NU Ranting Payaman. Kemudian, dilanjutkan dengan kegiatan masing-masing. Ada yang beristirahat, mandi, mencuci baju, maupun tadarus Al quran. Barulah pukul 10.30 diadakan semaan Al quran sebanyak 1,5 juz.
Lalu, dilanjutkan dengan pengajian dan salat Zuhur berjamaah. Setelah itu, para santri akan beristirahat. Pukul 14.30 dilanjutkan dengan pengajian hingga salat Asar berjamaah. Kemudian, ada pengajian lagi sampai pukul 16.30 dan setelahnya menunggu waktu berbuka puasa. "Kalau di rumah, kan, tidak bisa (full ibadah)," bebernya.
Pengasuh Ponpes Sepuh Putri Masjid Agung Payaman Magelang Arif Mafatihul Huda mengutarakan, ponpes sepuh ini dulunya diprakarsai oleh Kiai Siraj sekitar 1938. Kala itu, banyak kiai yang mendirikan ponpes ataupun tempat mengaji untuk remaja. Namun, tidak ada yang memikirkan ponpes untuk orang tua. Karenanya, Kiai Siraj mulai mengadakan ngaji bersama di masjid khusus untuk lansia.
Lambat laun, forum tersebut mulai banyak pendatang dari luar Magelang. Di Ponpes Sepuh Payaman, ada santri mukim dan khusus saat Ramadan. Untuk santri mukim, kebanyakan berasal dari wilayah se-Eks Karesidenan Kedu. Saat ini, jumlahnya sekitar 70 santri. Sementara selama Ramadan ini, ada sekitar 300 santri. "Biasanya berkelanjutan. Tahun besok dan selanjutnya ikut lagi," sebutnya.
Mereka rerata berusia di atas 50 tahun. Selama Ramadan, ada banyak kegiatan yang dilakukan. Hampir setiap waktunya adalah mengaji. Karena para lansia itu nyantri sebagai bentuk pengabdian diri. Terutama untuk beribadah. Selain itu, mereka ingin mendapat ketenangan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Bahkan, kata Huda, dengan fasilitas yang sangat minim, tidak membuat niat mereka luruh. Untuk makan pun, mereka harus mencarinya sendiri. Namun biasanya, di depan masjid banyak orang yang menjajakan makanan. "Saya sudah generasi keempat. Besok tetap dilanjutkan lagi karena memang sudah turun-temurun," kata dia. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin